Oleh: nocompromisegirl | 6 Agustus 2010

Husnudzan (Prasangka Baik) Tiada Henti Hingga Raga ini Benar-Benar Telah Mati

*Penulis mendedikasikan tulisan ini bagi seorang sahabat dan saudari yang senantiasa menemani dan mengingatkan penulis dengan ketulusan hatinya. Untukmu: Zarqa Sama’ir Rahmah

Salam takzimku untuk ketulusan hatimu. Semoga silah ukhuwah ini hanya akan terputus ketika kematian menghampiri.

***

Manusia memang sangatlah terbatas, ia tak kan pernah mampu memandang masa depan. Ia hanya dapat mengira-ngira, menerka dan menebak. Tak perlu bicara bagaimana 1 tahun, 1 bulan atau 1 minggu ke depan. Sekedar untuk mengetahui apa yang akan terjadi padanya 1 menit ke depan pun ia tidak akan mampu.

Sekarang, penulis akan mengajak saudara semua ke masa kini. Masa yang sedang kita jalani sekarang ini. Di mana kaki sedang melangkah dan setiap amaliah sedang dijamah. Tahukah saudaraku, bahkan dimasa ini pun akan ada banyak hal yang tak diketahui manusia.

Lantas bagaimana sikap seorang muslim dalam merespon keterbatasannya tersebut? Keterbatasan bahwa ia tidak dapat menjangkau segala sesuatu hal yang ada di depan atau tak dapat ia jamah. Penulis tidak akan membahas keduanya, penulis lebih mengerucutkan pembahasan pada segala sesuatu hal yang tak dapat di jamah manusia yang diantaranya adalah kedalaman isi hati sesama manusia terhadap kita. Sebagai contoh, ketika kita mendapat perlakuan yang tidak biasanya dari saudara kita terhadap kita, kita seringkali berprasangka macam-macam hingga berprasangka buruk terhadapnya. Berfikir negatif hingga akhirnya kita mengeluarkan statement yang buruk terhadap dia. Bolehkah kita berbuat seperti itu sedangkan proses untuk mencari kejelasan belum kita laksanakan?

Saudaraku, alangkah lebih baiknya kita tetap ber-husnudzan terhadap sesama saudara (muslim) kita. Karna itu adalah hak mereka yang harus kita penuhi. Husnudzan selama belum terlihat secara jelas pelanggaran yang mereka lakukan terhadap hukum syara’.

Sebagaimana firman Allah swt.

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri…” (TQS. An-Nur:12)

Maka saudaraku, berprasangka baiklah dan jauhilah prasangka buruk

Allah swt., berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (TQS. Al-Hujurat:12)

Ibnu Abbas berkatata tentang tafsir ayat ini,”Allah melarang kaum mukmin berprasangka buruk kepada mukmin yang lain.”

Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda:

“Hati-hati dan jagalah diri kalian dari prasangka buruk, karena berprasangka buruk adalah perkataan paling dusta.” (Mutafaq’alaih)

Buruk sangka terhadap seorang mukmin yang kelihatannya shalih tidak diperbolehkan. Bahkan disunahkan kita berbaik sangka kepadanya.

Saudaraku, tidak ada ruginya sama sekali ketika kita berbaik sangka terhadap sesama saudara. Semua akan berbuah pahala di hadapanNya.

Tak perlu mengharap balasan yang serupa dari manusia, belum cukupkah bagi kita pahala yang menanti di depan mata karna telah berbaik sangka terhadap sesama saudara??

Renungkanlah duhai saudara!!

-Walau dengan berurai air mata, walau harus berkorban bahagia di dunia, semoga keimanan tetap menyertai langkah hingga di akhir cerita hidup kita. InsyaAllah, bahagia telah menanti kita di surgaNya.. di tempat yang kekal, yang tak kan pernah ada air mata kesedihan tercipta disana karna yang ada, hanyalah derai air mata bahagia karna pertemuan kita dengan Kekasih Tercinta dan laki-laki yang paling mulia (Rasulullah saw)-

-hazna alifah-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: