Oleh: nocompromisegirl | 6 Januari 2010

E-M-P-A-T-I ~Karna Empati adalah Wujud Kasih Sayang~

Pernah ga kamu merasakan nikmatnya makan durian ketika ngeliat temen kamu makan durian, padahal kamu ga lagi makan durian??

Nah sob, tau ga, kalo pada saat itu tubuh kamu sedang melakukan proses empati dalam bentuk respons psikofisiologis. Apa yang terindera oleh kita dapat dirasakan oleh tubuh kita. Subhanallah! Inilah bagian dari kekuasaan Allah SWT.

Lantas, apa sih yang dimaksud dengan empati itu?

Menurut para psikolog, empati itu adalah kemampuan diri kita untuk turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Lalu, tahukah kamu kalo perasaan dan fikiran kita juga berempati pada emosi orang lain? Nah salah satu buktinya adalah ketika kamu ngerasain sedih bahkan hingga menangis ketika ngeliat sahabat, kaka atau adikmu menangis. Empati ga melulu untuk hal-hal sedih qo sob, tapi untuk hal-hal bahagia juga, contohnya saat adik kita diterima di SMP favoritnya, lalu kamu merasa gembira. Nah itupun bagian dari empati.

Menurut para ahli kejiwaan dan komunikasi empati seperti di atas adalah empati sebagai kecakapan persepsi sosial.

But sob, ternyata emang ga semua orang bisa berempati. Untuk dapat berempati, seseorang membutuhkan latihan. Karna empati ga secara otomatis dimiliki oleh setiap orang. Cuma orang-orang yang mau memilikinya yang akan mendapatkannya.

So, ga usah heran kalo kita menemukan sebagain orang yang ga bisa berempati. Misal, ketika kita melihat temen kita bersedih atau mendengarkan curhatan dia yang sedang menangis, kita malah cengar cengir, atau bahkan ketawa cekikikan. Nah hati-hati sob, kalo begitu, kita bisa termasuk golongan orang-orang ga berempati.

Dan sob jangan salah lho, empati itu juga adalah bagian dari akhlakul karimah. Akhlak yang terpuji. Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah sekumpulan orang yang paling mampu berempati pada orang lain. Dirumahnya, Nabi Muhammad saw sangat berempati kepada istri-istrinya. Beliau tidak mau menyusahkan mereka. Sering beliau menjahit pakaian sendiri yang sudah robek atau sendal beliau yang rusak. Beliau juga sering menghibur mereka dan mengajak mereka untuk berjalan-jalan.
Bentuk empati lain yang beliau ajarkan adalah anjuran kepada kaum muslimin untuk menyayangi yang muda dan menghormati yang tua. Sabdanya:

“Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma’ruf nahi munkar.”(HR. Tirmidzi)

Empati yang diajarkan Rasulullah saw. amat luas. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw. dalam setiap sholat berjamaah amat berempati pada para makmum. Jika di tengah-tengah shalat terdengar tangis anak kecil, beliau menyegerakan shalatnya karena khawair memberatkan sang ibu.

Bahkan terhadap hewan saja, Rasulullah saw. meminta kita untuk berempati pada mereka. Beliau saw. melarang kita menyiksa hewan, termasuk mengadunya. Jika hendak menyembelih hewan, kita diminta untuk menajamkan pisau sembelihan agar tidak menyiksa hewan.

Apa yang terjadi kalo ga ada rasa empati dalam hidup kita. Tanpa empati, dunia akan dilingkupi oleh para pemimpin kejam dan zalim. Mereka bersenang-senang padahal rakyatnya sedang menderita kelaparan. Mobil dinas mereka harganya mencapai 1,3 M belum lagi fasilitas-fasilitas penunjang lain yang tak kalah wow.. sedangkan rakyatnya, untuk makan esok hari saja sulit. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, dan melupakan orang lain. Bukankah pemimpin seperti itu telah ada sekarang ini?

Tanpa empati, tidak akan ada persahabatan. Bukankah persahabatan juga meminta kita untuk bisa ‘seia sekata, sehina semalu, dan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’? Jangan mengaku sahabat kalo tidak mau ikut memikul kesusahan sahabat kita.

Seorang sahabat Nabi saw. yang bernama Ibnu Abbas mengajarkan kita makna empati. Kata beliau-semoga Allah meridhoinya,

Sesungguhnya jika aku memahami ayat dari Kitabullah (Al-Qur’an), aku akan amat senang seandainya semua orang memahami seperti apa yang aku fahami.
Dan sesungguhnya jika aku mendengar seorang penguasa Muslim yang adil dan jujur,a ku gembira dengannya, mendoakannya dan tidak merasa memiliki hajat terhadapnya.
Sesungguhnya jika aku mendengar hujan turun dan menumbuhkan rerumputan di tanah kaum Muslimin, maka aku akan gembira dengannya walau aku tidak punya ternak di tanah itu.

~Miliki empati, karna ia bagian dari kasih sayang. Rasakanlah apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita; ortu, kakak dan adik kita, tetangga, teman-teman di sekolah. Juga seluruh kaum Muslimin di sudut planet ini. Jangan menutup mata apalagi tertawa dari kesusahan orang lain, ikutlah bergembira melihat kegembiraan orang lain. Insya Allah, itulah tanda-tanda keimanan kita.~


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: