Oleh: nocompromisegirl | 24 Desember 2009

Kebanggaan Seorang Ibu di Dalam Sistem Kapitalisme

Susan Levy merasa bangga karena anaknya yang merupakan seorang ilmuwan Dr. Brooke Magnanti mengaku pernah menjadi pelacur baru-baru ini. Ibunya Brooke yang kini menetap di sebuah rumah sederhana dekat Syracuse, berkata pada mulanya dia terkejut ketika mendengat anak tunggalnya membuat pengakuan tersebut.

Levy, 64, mengatakan, anaknya adalah seorang penulis hebat dan gemar menulis sejak masa kanak-kanak namun merasa terperanjat ketika Dr. Brooke mengaku dia menulis mengenai pengalamannya sebagai pelacur di halaman blog pada 2003 hingga 2004 dengan menggunakan nama samaran Belle de Jour.

Beberapa waktu lalu, sebuah koran menampilkan wawancara dengan Brooke yang mengaku dia adalah penulis buku harian di internet yang menceritakan kisah mengenai dunia pelacuran. Dia kini bekerja di sebuah laboratorium di Bristol, Inggris, mengaku menjadi pelacur untuk mencari uang dalam menyiapkan tesis doktoralnya pada 2003 di London.

Kisahnya tersebut kemudian dibukukan dan laris dijual. Bahkan sebuah seri drama televisi yang diperankan oleh aktor terkenal, juga diterbitkan berdasarkan kisah buku tersebut. Levy berkata, anaknya yang mendapat pendidikan di sebuah sekolah Katolik di Florida sebelum pindah ke Inggris pernah meneleponnya pada beberapa pekan lalu menceritakan isu tersebut.

Wahai Ibu, Apakah Ini Sebuah Kebanggan atau Kehinaan?

“Saya bangga anak saya tampil di panggung kemenangan,” begitulah kiranya kata-kata yang sering diucapkan oleh seorang ibu ketika anaknya terpilih menjadi pemenang program hiburan. Masih banyak lagi reaksi spontan dan kebanggan seorang ibu bila anak-anak kesayangan mereka mendapatkan kemenangan di dunia sekular kapitalis ini.

Kebanggan Levy terhadap anak perempuannya mungkin juga sebagai reaksi apologetik untuk menutupi rasa bersalah lantaran mengabaikan tanggung jawab seorang ibu sehingga anaknya berusaha mencari uang demi tujuan yang hendak dicapai. Namun, pada saat yang sama, Levy juga mempertahankan dan ingin memberitahukan bahwa ia telah memberikan pendidikan agama terbaik kepada anaknya, yaitu dengan mengirim anaknya ke sekolah Katholik.

Inilah yang menjadi kebanggaan para ibu di Barat. Namun bagaimana dengan kita? Layakkah kebanggan bermaksiyat seperti ini menjadi inspirasi? Naudzubillahi min dzalik! Sudah tentu jawabannya: Tidak!

Hari ini kita menyaksikan, banyak para ibu, di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini pun ikut-ikutan berbangga ketika anak-anak mereka tampil di acara reality show. Ibunya mengenakan kerudung, tetapi anaknya mengumbar aurat. Alih-alih sang ibu mendidik anak-anak mereka agar taat kepada Allah Swt, malah mereka ikut serta mendukung anaknya meraih ‘prestasi’ yang pada kenyataanya bermaksiyat.

Islam telah mengajarkan kepada kita, sebesar apa pun keinginan yang ingin dicapai, tetap saja selamanya tidak boleh menghalalkan segara cara. Apapun tujuan yang diraih di dalam kehidupan kita sehari-hari wajiblah bagi kita untuk mengikuti cara-cara dan acuan yang dilandasi syariat dan tidak boleh bertolak belakang dengan syariat tersebut. Seandainya saja kita bertentangan dengan syariat, di dunia mungkin selamat, tetapi bagaimana ketika berhadapan dengan Allah Hari Pembalasan di Akhirat kelak?

Tidak salah untuk berbangga, tetapi bagi seorang Muslim ada tempatnya. Menelusuri teladan para sahabiyyah di sepanjang sejarah kebangkitan Islam, begitu banyak kisah mereka yang patut menjadi contoh kebanggan kita sebagai generasi umat yang terbaik ini. Diantaranya, Kabsyah bin Rafi’ yang kehilangan dua orang anak kesayangannay Amru bin Muadz dan Sa’ad bin Muadz yang gugur syahid dalam mempertahankan Deen Allah. Bagaimana pendidikan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya sehingga mampu berkorban demi Kalimah Allah yang teguh. Begitu juga kebanggaan seorang ibu di dalam islam telah terekam dengan tinta emas sebagai sebuah sejarah teladan yang gemilang.

Begitu juga, sayidatina Asma’ binti Abu Bakar yang senantiasa merangsang anaknya Abdullah bin Zubair agar tidak menjadi seorang pengecut dan terus berjuang hingga ke ujung nyawa sekalipun. Ibu yang bertaqwa akan mendidik anak-anaknya dengan penuh ketaqwaan sehingga anak-anak mereka bercita-cita menjadi syuhada’. Ini bukan saja menjadi kebanggan bagi sang ibu, tetapi juga kebanggan bagi seluruh kaum Muslim dari satu generasi ke generasi yang lainnya.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (TQS. Al-Anfal [8]: 28)

Hari ini, kaum Muslim merindukan para ibu seperti layaknya para sahabiyyah yang senantiasa mendidik anak-anaknya agar menaati Islam. Namun, kini kaum Muslim termasuk kaum ibu dan anak-anaknya berada dalam sebuah ancaman. Kapitalisme tengah mencengkram kaum Muslim, termasuk kepada kaum ibu dari kaum Muslim. Padahal Kapitalisme telah nyata kerusakkannya. Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan. Buang jauh kapitalisme ke tempat sampah, dan kita hanya berpegang teguh kepada Islam saja. Dengan demikian akan terlahir kembali sosok-sosok ibu seperti di zaman para sahabiyyah. Dari sinilah akan terlahir generasi baru, generasi yang berjuang dan berkorban demi Islam. Insya Allah. [nisa/m/myk/syabab.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: