Oleh: nocompromisegirl | 4 September 2009

Relevansi OSPEK dengan Kepribadian Mahasiswa Sebagai Agen Pemimpin Perubahan

Alhamdulillah, kotaku cerah. Setelah sehari kemarin menghadapi hari yang ‘luar biasa’ membuat jantungku berdetak kencang.

Aktifitas hari ini tak begitu padat, berangkat pukul 13:00 WIB untuk Rapat Evaluasi Acara Talkshow Remaja hari ahad kemarin, menyusun Skenario Acara MABIT El-Rahma dan menyusun rancangan acara mahasiswa sebulan mendatang.

Tepat pada pukul 17:27 WIB, angkutan kota yang kunaiki melintas disebuah pertigaan kompleks sekolah-sekolah. Disitu ada SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Eh..sebentar, mataku menangkap pemandangan aneh, ada segerombolan muda mudi yang menggunakan pakaian keatasan kemeja putih dengan setelan celana bahan berwarna hitam, sebagian yang putri menggunakan setelan rok berwarna hitam lengkap dengan kerudungnya. Yang pria, menggunakan kopiah berwarna hitam, persis setelan Bung Karno puluhan tahun silam, tapi bedanya, kalo kopiah hitam Bung Karno berhiaskan lambang Pancasila di sudut kanan atasnya sedangkan yang ini justru menggunakan secarik kertas putih berukuran sekitar 3×3 cm yang ditempelkan dengan lem kertas di sudut kanan atas kopiah yang mereka gunakan. Yang wanita sih jelas ga begitu, lha mereka pake kerudung ga pake kopiah, hihi…

Upz, ternyata keanehan mereka tak hanya sampai disitu. Mereka tidak berjalan dengan tangan kosong, mereka menjinjing sesuatu, KARDUS!!! Hahahahahaha… untung aku bisa menahan tawaku saat di angkutan umum, abis lucu! Begini pendeskripsiannya…
Mereka menjinjing kardus kosong yang pinggirannya di tutupi oleh karton berwarna orange dan disana terdapat tulisan, ada nama dan fakultas, o..o..ooowwww, mahasiswa toh, kayanya lagi OSPEK. Mereka memasang tali panjang pada kedua ujung kardus itu sehingga kardus itu bisa mereka jinjing. Dah lebih lucu lagi, di dalam kardus itu, terdapat perkakas-perkakas aneh, diantaranya, ada Bola Sepak yang terbuat dari plastik yang terbelah, sehingga bagian dalam bola sepak itu bisa terlihat dan bisa digunakan sebagai topi (Hm..susah banged ngedeskripsiin belahan bola sepak plastik, ya pokonya gtu deh!hehe…).

Tak jauh dari situ, ada juga sebagian dari mereka yang tidak menenteng TAS KARDUS (Hahaha…tas yang aneh…) melainkan keresek besar berwarna hitam yang mereka tambahkan tali di setiap ujungnya sehingga bisa mereka selendangkan di pundak mereka. Mereka juga tidak membawa TOPI BOLA SEPAK SEPOTONG, melainkan topi hitam berbentuk kerucut yang terbuat dari karton berwarna hitam.

Kasian amat mereka, fikirku. Sampe segitunya dikerjain sama seniornya.

Ok sobat, di atas adalah fakta bagaimana kondisi calon mahasiswa saat kegiatan OSPEK. Dan yang akan saya bahas sekarang ini adalah relevansi OSPEK dengan kepribadian mahasiswa sebagai agen pemimpin perubahan.

OSPEK adalah singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. OSPEK merupakan salah satu kegiatan kampus yang diikuti para calon mahasiswa baru sebelum menjalani aneka prosesi perkualiahan di suatu perguruan tinggi.

Itu pengertian secara teori dari OSPEK. Sekarang, mari kita lihat realita OSPEK di lapangan.

Seperti yang sobat baca di atas atau yang sobat liat langsung di lapangan realita calon mahasiswa baru ketika mengikuti kegiatan OSPEK pasti pengen tertawa geli kan, lucu. Saya fikir, mereka adalah seorang pemuda dan pemudi yang akan menjadi calon maha-siswa, sepertinya amat sangat tidak pantas diperlakukan seperti itu. Menenteng kardus, keresek, menggunakan topi bola, topi kerucut. Mereka bukan anak SD yang sedang mengikuti prosesi ulang tahun, atau anak teater yang sedang berakting di atas panggung. Mereka adalah maha-siswa. Elemen dari kaum intelektual. Mereka sudah tak bisa diperlakukan sama layaknya siswa SD, SMP atau SMA. Karna gelar mereka sudah bukan siswa namun maha-siswa. Jelas berbeda. Lihatlah kata maha yang tersemat di bagian depan kata siswa, itu menunjukkan ia sudah lebih dari seorang siswa.

Kegiatan OSPEK yang diharapkan dapat membentuk para calon mahasiswa pemimpin perubahan, kini tak jarang bahkan sering dijadikan ajang balas dendam para senior kepada juniornya. Banyak kasus yang terjadi, mulai dari kasus penganiayaan yang mengakibatkan korbannya terluka sehingga harus dibawa ke rumah sakit sampai pada kasus yang mengakibatkan korban meninggal. Berikut segelintir fakta yang dapat saya ungkapkan.

Pada September 2001, salah satu mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di wilayah Jawa Barat mengalami penganiayaan. Ia adalah calon mahasiswa jurusan Manejemen Informatika yang saat mengikuti kegiatan ospek Jumat silam, meminta kepada panitia untuk istirahat lantaran kelelahan. Alasannya penyakit yang diderita pemuda berusia 19 tahun tadi kambuh. Biasanya, saat kambuh, secara spontan melakukan tindakan yang ganjil. Misalnya tanpa sadar meminta uang. Hal tersebut kontan membuat panitia berang. Tak berpikir panjang, sejumlah panitia langsung memukuli korban beramai-ramai lantaran menganggap calon mahasiswa itu mabuk.

Pada tahun 2004, lebih dari 4 orang calon mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Makassar yang sedang mengikuti kegiatan OSPEK jatuh pingsan karna kelelahan sehingga korban dilarikan ke RS. Wahidin Sudirohusodo.

Pada tahun 2005, masih di salah satu Perguruan Tinggi di Makassar.. 2 orang calon mahasiswa baru saat kegiatan OSPEK terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit. Salah satu dari keduanya mengalami pergeseran tulang rahang akibat ditendang oleh seniornya.

Dan yang baru-baru ini terjadi, yakni pada Februari 2009. Dwiyanto Wisnu Nugroho, salah satu calon mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Bandung, tewas akibat kelelahan setelah mengikuti kegiatan OSPEK di Lembang.

Dan masih banyak kasus lainnya yang tidak mungkin saya paparkan satu persatu di sini.

Sobat, sekali lagi, mahasiswa adalah bagian dari kaum intelektual. Mereka hadir bukan hanya sebagai pelaku, namun juga menjadi seorang penggagas. Di otaknya terdapat ide-ide brilian. Semangatnya luar biasa. Pantas saja jika mereka menjadi bagian dari kaum intelektual. Mereka adalah corong suara rakyat. Masih terlintas dalam benak saya bagaimana kondisi beberapa tahun silam ketika ribuan mahasiswa menduduki gedung MPR dan DPR untuk melakukan reformasi. Mereka melakukan itu atas nama rakyat yang tertindas saat rezim Suharto masih berkuasa.

Begitu luar biasanya kedudukan dan potensi seorang mahasiswa, membuat kita harusnya lebih kritis. Membentuk pola berfikir mahasiswa dengan lebih manusiawi. OSPEK realitanya tidak dapat menyodorkan output yang sesuai dengan kedudukan dan potensi mahasiswa yang begitu besar. Realitanya, OSPEK justru membentuk sebagian mahasiswa menjadi mahasiswa yang bermental preman. Semangatnya bukan ia gunakan untuk melakukan proses perubahan ke arah lebih baik namun justru ia gunakan untuk melakukan aksi balas dendam.

Sudah saatnya kini para calon mahasiswa digiring ke arah pembentukan pola fikir yang yang dapat membentuk mereka menjadi mahasiswa pemimpin perubahan. Tentu bukan dengan OSPEK yang realitanya amat sangat memprihatinkan. Mungkin saya adalah sebagian dari orang-orang yang menolak diadakannya OSPEK, walau perlu diketahui, saya juga seorang anggota Senat Mahasiswa, namun saya anti dengan kegiatan seperti itu. Beruntunglah kampus saya memang tidak memperkenankan dilaksanakannya OSPEK pada calon mahasiswa baru.

Pembentukan seorang mahasiswa pemimpin perubahan dapat dilakukan dengan mengadakan training-training motivasi dan pembinaan intensif. Tentu bukan sembarang training ataupun pembinaan yang hanya bersifat parsial dalam membentuk pola fikir. Namun training dan pembinaan yang memang bisa menyentuh dan mengubah pola fikir mahasiswa ke arah yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, sebagai seorang mahasiswa muslim maka saya berpendapat bahwa pola fikir mahasiswa yang lebih baik adalah pola fikir yang berlandaskan pada keimanannya sebagai seorang hamba Allah. Maka dari sini dapat diambil kesimpulan, bahwa pembentukan mahasiswa guna menjadi pemimpin perubahan adalah dengan mengokohkan aqidahnya sebagai seorang muslim. Menumbuhkan rasa keterikatan dia sebagai seorang hamba bagi Tuhannya. Sehingga hal ini dapat berimbas pada pola sikapnya yang akan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Sehingga terbentuklah kepribadian seorang mahasiswa yang Islami.

Semangat yang dimiliki oleh seorang mahasiswa haruslah disertai ilmu. Agar tidak berbuah hal-hal negatif. Maka dari itu, sekali lagi, ia tidak bisa dibiarkan belajar sendiri, ia harus bersama dengan orang-orang yang dapat membimbing mereka dan membina mereka dengan Islam yang kaffah. Sehingga kedudukan, potensi serta semangatnya yang besar dapat diarahkan ke arah yang benar, yakni untuk perjuangan Islam.

Maka dari sini saya pribadi berpendapat, realita OSPEK saat ini sungguh tidak ada relevansinya terhadap pembentukan kepribadian mahasiswa sebagai agen pemimpin perubahan. Selain di dalamnya terdapat realita negatif dalam bentuk kekerasan dan arogansi seniornya. OSPEK juga tidak menjanjikan sebuah pembinaan intensif yang dapat membentuk kepribadian mahasiswa sebagai agen pemimpin perubahan, mengarahkan kedudukan, potensi serta semangat mahasiswa untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Yakni perubahan ke arah penerapan Syariah Islam secara kaffah dan penegakkan Khilafah Islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: