Oleh: nocompromisegirl | 4 September 2009

‘Kejutan’ 2 September 2009

14.50..saat-saat indah ,enanti panggilan Sang Kekasih, sambil melantunkan ayat-ayat cinta-Nya. Senyum dan rasa rindu menunggu detik-detik khalwatku dengan-Nya, senantiasa terukit dari bibir dan dari dalam palung hatiku.

“Rabbi… ampuni kami hamba-hamba-Mu yang masih terlena dengan kehidupan dunia yang tak kekal ini, terkadang kami lalai dari kewajiban kami untuk menerapkan syariah-Mu secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan kami…” Tak terasa air mata mengalir semakin deras… mengingat betapa masih minim kontribusiku untuk dakwah ini, untuk perjuangan ini. Kemudian aku teringat isi pesan singkat yang kuterima dari mas’ulahku pada pukul 12:14:38 WIB, yang isinya:
“ Untuk para Syabah. Wahai Pejuang Khilafah jika ramadhan ini antunna berdakwah untuk khilafah (institusi yang akan menerapkan syariat islam secara kaffah), berbahagialah karena antunna diibaratkan melakukannya 700X. allah akan memuliakan antunna dunia hingga akhirat dan akan membalasnya 700X lipat.”

Entah kekuatan apa yang merasuk ke dalam jiwaku setelah mengingat isi pesan singkat itu, tiba-tiba aku terfikir untuk meneruskan artikelku yang belum rampung. Sambil menunggu adzan ashar fikirku. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju komputer yang masih menyala dalam keadaan stand by. Baru saja jari-jari ini mengetikkan kata, “Khila…”, belum sempat aku membereskan mengetikkan satu kata pun, tiba-tiba komputerku bergetar kencang dan semakin kencang. masyaAllah, bukannya aku lari keluar rumah, aku malah tertegun menatap layar komputerku, entahlah….mungkin karna kaget, takut, bingung… sampai akhirnya komputerku mati. Mati. Mati Lampu. Ya Allah…. Saat itu aku baru sadar bahwa aku harus menyelamatkan diri.

Guncangan semakin dahsyat. Aku mendengar suara abiku yang sudah berada di teras rumah memangil-manggil namaku. Astaghfirullah, aku mulai panik, aku berlari meninggalkan kamar menuju teras. MasyaAllah, ternyata di luar rumah sudah banyak orang. Terlihat kepanikan di raut wajah mereka, bibir mereka bergetar mengucap kalimat tahlil, “Laa illaaha illallah” dengan rythme yang cepat diiringi dengan nafas yang tersengal-sengal, menyiratkan ketakutan yang mendalam.

Aku shock… melihat tetangga-tetanggaku, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, berlarian menuju jalan.

Panik, itu pasti, tak ada satupun tetanggaku yang berlari menuju jalan dengan menggunakan alas kaki, semuanya telanjang kaki.

Rabb, rasanya hati ini ingin teriak, lutut ini ingin bersimpuh, keningku ingin bersujud menyentuh tanah… aku takut tak dapat mendengar panggilan-Mu yang hanya tinggal dalam hitungan detik yang sudah sedari tadi aku tunggu dengan penuh rindu…

Tepat pukul 14.57 WIB, gempa mulai terhenti perlahan. Entahlah… aku tidak bisa mengira-ngira dalam bentuk angka seberapa besar kekuatan gempa yang barusan kami rasakan. Ah, sempat terfikir seandainya di hadapanku ada seismograf, mungkin aku bisa tau dan memantau pergerakan naik turun skala besarnya kekuatan gempa.

Masih dalam kondisi panik, kaget, tertegun alias bengong, ah banyak rasa yang bercampur baur dalam benakku. Tiba-tiba tetangga depan rumahku teriak, “Ibu-ibu..pusat gempa di Tasikmalaya.” Astaghfirullah… mataku nanar, jantungku berdetak makin cepat, sakiiit rasanya, lututku melemas, tangaku memegang erat tangan abi…. Hatiku berteriak, “ Kakek, Nenek, Om, Tante, Adik Sepupuku, Saudara/I seperjuanganku, kampung halamanku, tempat kelahiranku, ah membayangkannya serasa mau pingsan, dramatis banged fikirku, tapi sungguh aku benar-benar mengkhawatirkannya.”

Astaghfirullah. Kucoba menenangkan diriku sendiri, aku ambil HP dari saku jilbabku. Rabbii…berkali-kali aku coba telpon keluargaku di Tasik, benar-benar tidak tersambung. Ah, kufikir telpon rumah mungkin nyambung ternyata tidak tersambung juga.

Dalam keadaan panik, terdengar suara adzan, memang tidak terlalu jelas terdengar di telinga, karna tanpa speaker, listrik masih mati. Ada setetes embun menyelinap di dalam hatiku ketika mendengar lantunan suara adzan. Terasa lebih tenang. Aku berlari mengambil air wudhu. Kemudian shalat ashar berjamaah bersama adik perempuanku. Tak terasa dalam shalat air mataku mengalir deras, ingat keluarga besar di Tasikmalaya yang belum ada kabar. Selesai shalat, aku meneruskan dengan sujud panjang, memohon ampunan kepada Allah dan keselamatan bagi keluargaku.

Selesai itu, aku ambil HP, kembali aku coba hubungi keluargaku, namun tetap belum bisa tersambung. Akhirnya terfikir olehku untuk kembali mengaktifkan FB via internet mobile karna listrik masih belum menyala juga. Dari situ aku tau kabar saudara-saudaraku dari stat FB, aku mendapat banyak berita, ternyata gempa hampir melanda sebagian pulau Jawa. Pergeseran lempeng Indo-Australia yang menyelinap ke lempeng Eurasia mengakibatkan gempa tektonik hebat dengan kekuatan 7,3 SR dengan kedalam 30m dari permukaan lautdi 142km Barat Daya. Dengan titik episentrum gempa yakni di wilayah Tasikmalaya. Walau sempat BMKG menyatakan ada potensi tsunami di pantai selatan pangandaran, namun sekitar 15 menit kemudian BMKG menarik kembali pernyatannya. Tenang.. lumayan menenangkan…

Aku ambil mushafku, kembali kulantunkan ayat-ayat cinta-Nya, Alhamdulillah sungguh amat menenangkan hatiku.

Alhamdulillah sekitar pukul 15.30 WIB listrik menyala. Sementara ku akhiri sejenak melantunkan ayat-ayat cinta-Nya. Ku ambil kembali HP ku dengan penuh pengharapan akan tersambung. 10 detik tanpa nada, tetap kutunggu dengan penuh rasa sabar… Alhamdulillah akhirnya tersambung juga. 15 detik berlalu tanpa jawaban, namun akhirnya di penghujung detik ke 15 ada jawaban dari tanteku. Alhamdulillah tante bilang kakaek, nenek, dan keluarga besar disana baik-baik ajah. Rumah juga ga rusak atopun retak apalagi roboh. Saat kutanya kondisi tante-tante ku di Padalarang dan Cirebon, Alhamdulillah beliau bilang beberapa menit sebelum aku telpon mereka sudah memberikan kabar. Mereka selamat, baik-baik ajah. Alhamdulillah tenang rasanya.

Tak lama dari situ, masuk beberapa sms, sepertinya jaringan telpon sudah mulai stabil. Sms datang dari saudara-saudara seprjuangan di Tangerang, Tasikmalaya dan daerah sekitar Jabar dan Jabodetabek yang mengabarkan bahwa kondisi mereka baik-baik saja.

Hingga pukul 17.30, berita di televisi terus mengabarkan perkembangan kondisi pasca gempa. Terutama dari daerah pusat gempa yakni Tasikmalaya. Dikabarkan warga pesisir pantai dan daerah Cilacap Tasikmalaya, diungsikan. 9 orang tewas. Gedung Rektorat Unsil roboh. Innalillahi, teringat masa kecilku. Itu tempat mainku. Om ku dosen disitu.

Miris melihat kondisi kampung halamanku. Hingga pukul 17.35, dikabarkan 141 bangunan rusak parah di daerah Tasikmalaya. 3 orang tewas di kawasan Garut dan 8 orang tewas di kawasan cianjur selatan dan 12 rumah roboh.

Gempa susulan terjadi kembali di Tasikmalaya sekitar pukul 15.15 WIB dengan kekuatan 5,1 SR.

Rabb, ini adalah peringatan dari-Mu. Mungkin ini baru peringatan kecil bagi kami. Semakin mewabahnya penyakit Wahn (Cinta dunia dan takut mati) serta terjadinya banyak kemaksiatan membuat-Mu murka. Apalagi ditambah dengan tidak diterapkannya hukum Islam di muka bumi ini, serta sombongnya sebagian manusia yang membuat tandingan-tandingan hukum selain hukum Islam. Mereka menolak bahkan menghalang-halangi diterapkannya hukum islam secara kaffah (menyeluruh). Mereka menghujat, memfitnah, menangkap, memenjarakan, dan menyiksa para aktifis pejuang Syariah dan Khilafah.

Sadarlah duhai manusia, ini hanya peringatan kecil dari-Nya agar kita mau kembali menerapkan Syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan di bumi milik-Nya ini. Bukan suatu hal yang mustahil Allah akan kembali memberikan peringatan yang lebih dari ini jika kita terus membandel dan tetap mempertahankan berhukum dengan hukum thagut.

Renungkan kawan:
Bumi yang lapang dan kita jadikan tempat tinggal ini adalah milik-Nya
Oksigen yang kita hirup ini adalah milik-Nya
Raga yang kita tempati adalah milik-Nya
Makanan yang kita makan adalah rezeki dari-Nya
Hangatnya mentari di siang hari adalah berkat kasih sayang-Nya, ia mengatur jarak dan temperaturnya agar tidak terlalu panas ketika cahayanya sampai di bumi.
Tenag dan sunyinya malam sehingga kita dapat beristirahat juga adalah berkat kasih sayang-Nya.

Dan tentu saja masih banyak lagi bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Hanya saja pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah memberika yang terbaik kepada Dzat Yang Maha Baik dengan menerapkan dan menjalankan Syariah islam secara kaffah (menyeluruh)???

Sudah saatnya sekarang kita kembali kepada Syariat Islam secara kaffah dan membuang sistem kufur ini ke dalam tong sampah peradaban.

Inilah satu lagi kawan, teguran Allah terhadap kesombongan manusia kebanyakan sekarang ini yang lebih memilih berhukum dengan hukum thagut dibanding berhukum dengan hukum Islam.


Responses

  1. Kami dari Sukabumi sangat trauma dengan adanya gempa hari Rabu tgl 3/9/2009, Kota Sukabumi diguncang oleh gempa begitu kerasnya sampai tanah yang kami pijak bergelombang bagai ombak dilautan.
    Selama hidup baru kali ini mengalami musibah
    yang begitu dasyatnya. Yaa Robbi Ampuni Hambamu yang terlena ini, Kuatkan Iman Islam Kami, Yaa Robbi Ampuni dosa-dosa orang yang meninggal dunia dalam bencana gempa bumi ini… Amiin Yaa Robbal Alamiin.

  2. Laa inkafartum Laa Azhidanakum wa laa inkafartum inna azhabiilasyhadit.
    “Hai orang2 yang beriman bersyukurlah kepada Allah Swt,dan siapa yang tidak bersyukur kepada Allah Swt maka azhab yang engkau terima.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: