Oleh: nocompromisegirl | 17 Mei 2009

BAHAYA PRAGMATISME

Akhir-akhir ini masyarakat sering mendengar istilah pragmatisme. Walaupun mungkin belum terlalu paham, tapi kalangan awam sepintas mengkonotasikan pragmatisme sebagai sebuah sikap atau paham yang negatif. Ada kesan hipokrit dan manipulatif.

Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani “pragma” yang berarti perbuatan atau tindakan. “Isme” di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme berarti: ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kriteria kebenarannya adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil/manfaat.

Istilah pragmatisme datang dari Immanuel Kant yang menurutnya adalah “keyakinan-keyakinan hipotesa tertentu yang mencakup penggunaan suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan riil untuk mencapai tujuan tertentu”. Pragmatisme adalah aliran filsafat yang berkembang di Amerika Serikat. Filsafat ini berkembang di Amerika pada abad ke-19 sekaligus menjadi filsafat khas Amerika dengan tokoh-tokohnya seperti Charles Sander Peirce, William James, dan John Dewey. Aliran ini menjadi sebuah aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi segala bidang kehidupan Amerika. Pragmatisme mencerminkan pandangan hidup bangsa Amerika secara keseluruhan.

Pada praktiknya, pragmatisme menuntut dua syarat; Pertama, ide atau keyakinan yang mendasari keputusan yang harus diambil untuk melakukan tindakan tertentu. Dan yang kedua, tujuan dari tindakan itu sendiri. Keduanya tidak bisa dipisahkan.Bagi kalangan pragmatis, sesuatu dianggap benar jika berguna bagi manusia, bermanfaat dalam praktek dan dapat memenuhi tuntutan hidup manusia.

Pragmatisme Politik
Sepintas pragmatisme seperti cara berpikir yang benar. Mudahnya, jika sebuah gagasan atau ideologi tidak bisa diterapkan dan diambil manfaatnya dalam praktik, maka buat apa dipertahankan. Kebenaran — menurut kaum pragmatis — adalah yang terbukti bermanfaat dalam praktik. Bukan teori an sich. Jika sesuatu tidak memberikan keuntungan bagi manusia, ia layak ditinggalkan. Sekalipun hal itu bernilai ideologis dan idealis.

Inilah sebenarnya mudlorot (bahaya) pragmatisme. Ia dengan mudah mengkhianati kebenaran sejati dalam pandangan ideologi dan tataran idealis. Pragmatisme mendorong manusia selalu menginginkan keuntungan yang seketika. Akibatnya ia akan melakukan tindakan apapun untuk mewujudkannya.

Faktanya, keuntungan itu sering bersifat subyektif. Bergantung pada manusia itu sendiri dan kelompoknya. Belum tentu sesuatu yang dianggap benar oleh sekelompok orang, adalah kebenaran yang sejati. Begitupula manfaat yang dirasakan seketika bisa jadi membawa mudlorot di waktu lain.

Di kancah politik kekinian, pragmatisme dijadikan world of view oleh banyak insan politik dan parpol. Walau saat kampanye banyak menjanjikan keberpihakan pada rakyat, tapi ucapan dan tindakan mereka bisa ditebak sekedar mengamankan kedudukan mereka. Masyarakat sering melihat parpol-parpol yang seolah bermusuhan, tapi kemudian mudah berangkulan dalam waktu singkat. Banyak insan politik dan pejabat yang mengumbar kalimat berpihak pada rakyat, tapi membiarkan hajat hidup rakyat naik harga atau dikuasai pihak asing.

Menilik dari sisi ajarannya, maka pragmatisme sebenarnya merugikan dan membahayakan masyarakat. Siapapun yang memakainya sebagai cara berpikir dan bertindak, tidak lagi mengindahkan rasa keadilan dan kebenaran yang objektif. Kaum pragmatis tidak membutuhkan lagi ideologi dan nilai-nilai idealis. Bagi mereka, yang terpenting adalah mendapatkan keuntungan spontan bagi dirinya dan kelompoknya. Dengan demikian aturan dan nilai-nilai ideologi rawan untuk dimanipulasi.

Dengan demikian pragmatisme menjadikan pelakunya senantiasa bersikap oportunis dan hipokrit. Bagi mereka yang terpenting bukanlah mempertahankan idealisme dan ideologi, tetapi mendapatkan keuntungan dari tindakan yang mereka lakukan. Tidak peduli bahwa keuntungan itu hanya bersifat jangka pendek.

Dalam kehidupan sehari-hari pragmatisme diterjemahkan dalam sebuah peribahasa lama; tiada rotan, akar pun berguna. Atau dalam praktiknya pragmatisme digunakan masyarakat dengan istilah “daripada”. Logika “daripada” ini padahal seringkali ‘menyesatkan’. Orang merasa aman melakukan sesuatu yang keliru dengan cara pandang ‘daripada’. Misalnya, daripada parlemen dikuasai orang-orang jahat, mending kita yang kuasai. Meski realitanya mereka sendiri berkoalisi dengan orang-orang yang mereka sebut ‘daripada’. Itulah pragmatisme.

Oleh karena itu sudah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat muslim, meninggalkan cara berpikir pragmatisme dan ‘daripada’. Tidak selamanya akar bisa menggantikan rotan. Jika kita masih bisa mendapatkan rotan mengapa harus mengambil akar pohon? Jadilah rakyat dan politisi yang idealis, yang setia pada kebenaran dan ideologi, bukan mencari keuntungan sesaat. Apalagi jika keuntungan itu hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja dan manipulatif pula.[ ]

Oleh: Iwan Januar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: