Oleh: nocompromisegirl | 16 Mei 2009

Wanita Sebagai Pemimpin Negara

Salah satu perbedaan peranan antara wanita dan lelaki adalah dalam masalah kepimpinan yang berhubungan dengan pemerintahan. Untuk peranan ini, hanya lelaki yang diberi tanggungjawab oleh Allah Subhanahu wa Taala, sedangkan wanita tidak dibebani tanggungjawab ini. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

Tidak akan berjaya suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin mereka”.

Hadis ini telah dinilai sahih dan terdapat dalam Kutub al-Sittah.

Akan tetapi, para feminis mengatakan bahwa hadis ini merupakan kebohongan yang dilakukan oleh Abu Bakrah. Alasan mereka, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abu Bakrah pernah di sebat karena memberikan kesaksian palsu tentang perzinaan Al-Mughirah dan Ummu Jamil sehingga hadis yang diriwayatkannya tidak boleh diterima.

Pendapat mereka ini sebenarnya sejalan dengan para orientalis yang ingin menciptakan keraguan pada sumber otentik Islam yaitu Hadis Nabi. Mereka menuduh bahwa karena kesaksian Abu Bakrah tidak diterima, maka segala hadis yang diriwayatkannya meskipun telah dinyatakan sahih oleh Al-Bukhari dan Muslim perlu untuk dikaji lagi kesahihannya.

Dalam menyingkap permasalahan ini kita tidak boleh menjustifikasi bahwa dengan disebatnya Abu Bakrah merupakan bukti dia telah berbohong dan kesaksiannya tidak diterima selama-lamanya. Ini karena pertama, adanya kaidah umum yang telah disepakati oleh ahli hadis bahwa semua sahabat adalah adil. Abu Bakrah merupakan sahabat Rasulullah seperti yang dinyatakan oleh Al-Hasan Al Basri, salah seorang ulama tabi’in yang terkemuka.

Tidak ada seorang sahabat pun dari sahabat-sahabat Rasulullah yang tinggal di Basrah lebih mulia dibandingkan dengan Imran ibn Husayn dan Abu Bakrah. Dia mempunyai banyak pengikut dan merupakan orang terhormat di Basrah”.

Kedua, periwayatan dan kesaksian merupakan dua fakta yang berbeda. Periwayatan bergantung pada penukilan orang yang adil serta kuat hafalan dari orang tersebut, mulai dari sumber berita yang pertama hingga terakhir. Periwayatan tidak memerlukan nisab, juga tidak ada larangan anak meriwayatkan dari orang tua dan saudaranya, periwayatan juga boleh dinukilkan atau diwakilkan melalui orang. Sedangkan kesaksian, selain adanya syarat adil dan terpenuhnya nisab, tidak dibenarkan anak menjadi saksi orang tua dan saudaranya. Kesaksian juga mesti berdasarkan kesaksian mata atau telinga secara langsung. Selain itu, adil dalam periwayatan berbeda dengan adil dalam kesaksian. Adil dalam periwayatan berarti Muslim, berakal, serta selamat dari faktor-faktor kefasikan dan terkikisnya muru’ah (kehormatan diri). Sebaliknya, adil dalam kesaksian berarti konsisten, yaitu bersikap “preventif” (mencegah) terhadap apa yang dianggap orang sebagai tidak konsisten.

Sebenarnya dalam kesaksian Abu Bakrah, beliau disebat (dihukum) karena salah satu syarat kesaksian ialah terpenuhnya nisab (zina – 4 orang saksi) tidak terjadi. Ziyad, salah seorang saksi, menarik kembali kesaksiannya ketika tiba di Madinah. Setelah Abu Bakrah disebat 80 kali, Umar meminta beliau untuk bertaubat, tetapi beliau menolak. Umar lalu mengatakan bahwa dirinya akan disebat lagi jika tetap tidak mau bertaubat. Dalam situasi ini, beliau memilih untuk disebat daripada menarik kembali kesaksiannya dan bertaubat. Sikap ini menunjukkan bahwa beliau konsisten atau adil. Beliau tetap mempertahankan pendapat beliau. Selain itu Umar telah mengakui bahwa dia menjatuhkan hukuman sebat kepada Abu Bakrah hanya agar kelak kesaksian Abu Bakrah dapat diterima kembali.

Jadi, sebenarnya tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Abu Bakrah telah berbohong. Yang perlu dipertanyakan adalah Ziyad: Mengapa setelah di Madinah dia menarik kesaksiannya? Tidak ada penjelasan kenapa Ziyad berubah fikiran, tetapi pada masa Muawiyah, Ziyad telah dijatuhi tuduhan oleh Muawiyah atas “kebohongan” dalam kesaksiannya yang menyebabkan Abu Bakrah disebat. Tetapi Abu Bakrah melarang Muawiyah untuk melakukannya. Setelah kesaksian ini, Abu Bakrah bersumpah untuk tidak berbicara dengan Ziyad yang masih saudara seibunya itu hingga meninggal dunia. Ziyad pun akhirnya memenuhi tuduhan Muawiyah dan berusaha mendekati anak-anak Abu Bakrah untuk menebus kesalahannya. [lihat Ibn Sa’ad, at Thabaqat al-Kubra, juz VII, hlm 15].

Oleh kerana Abu Bakrah terbukti tidak bersalah, maka berdasarkan hadis yang diriwayatkannya, haram hukumnya bagi perempuan untuk menjadi pemimpin negara. Persoalan seterusnya justeru, bolehkah perempuan berpolitik?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: