Oleh: nocompromisegirl | 13 Mei 2009

Bolehkah Muslimah Melakukan Masirah??

Soal:
Apakah hukumnya kaum wanita melakukan masirah di jalan raya atau tempat terbuka, kemudian di sana mereka melakukan seruan?

Jawapan:
Masîrah secara harfiah berarti perjalanan, baik tanpa ucapan ataupun disertai dengan ucapan. Dalam kamus al-Mawrîd, disebutkan bahwa masîrah berarti berbaris, atau perarakan; juga disamakan dengan demonstrasi- namun demonstrasi lebih tepat disebut sebagai muzhâharah.[1]

Menurut perspektif etimologi, memang terdapat perbedaan antara masîrah dan muzhâharah. Kepada kaum sosialis, muzhâharah (demonstrasi) itu dilakukan dengan disertai pemboikotan, mogok, kerusuhan, dan perlakuan ganas yang merusakkan harta benda awam . Tujuannya supaya objektif revolusi mereka tercapai..[2] Sedangkan masîrah tidak lebih dari satu perantaraan atau cara untuk menyampaikan pendapat dan tuntutan, maupun bantahan terhadap pendapat atau dasar-dasar yang dijalankan oleh para penguasa; bukan saja pemerintah, tetapi semua golongan yang memegang tampuk kekuasaan, seperti halnya badan legislatif (pembuat undang-undang), badan eksekutif (pelaksana undang-undang), badan judikatif (kehakiman), parti yang sedang berkuasa, ataupun golongan yang memegang kekuasaan; seperti pasukan polisi dan tentara. Pendapat, tuntutan, atau bantahan tersebut disampaikan dalam bentuk seruan (dakwah) atau teguran (muhâsabah); tanpa disertai dengan perbuatan yang bertentangan dengan misi dakwah dan muhâsabah itu sendiri— seperti melakukan mogok, kerusuhan dan keganasan maupun pengrusakan.

Dengan demikian, hukum asal masîrah itu sendiri mengikuti hukum uslûb yang status asalnya adalah mubah. Sebagaimana uslûb (cara) yang lain, masîrah sebagai salah satu uslûb boleh digunakan untuk melaksanakan kewajiban, seperti menyampaikan seruan kepada para penguasa yang zalim atau menegur(muhasabah) kekhilafan pemerintahan mereka. Hal ini adalah usaha untuk  melaksanakan sabda Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jihad yang paling baik adalah (menyatakan) pernyataan hak kepada penguasa yang zalim. [HR al-Hakim].

Oleh karena itu, statusnya sebagai uslûb yang mubah tetap tidak akan berubah menjadi wajib; sekalipun uslûb tersebut boleh digunakan untuk melaksanakan dan menyempurnakan suatu kewajiban.

Sebagai uslûb yang memang mubah, masîrah tidak boleh disertai dengan perkara-perkara yang diharamkan, seperti melakukan mogok, kerusuhan, dan keganasan; termasuk laungan-laungan dan seruan yang disampaikan ketika masîrah(perarakan) itu sedang berlangsung. Oleh itu, dalam hal ini, perlu diperhatikan tiga perkara berikut:

1. Al-jur’ah bi al-haq, yaitu lantang dan berani dalam menyuarakan kebenaran (Islam);
2. Al-Hikmah fi al-Khithâb, yaitu bijak dalam menyampaikan seruan (syarahan);
3. Husn al-Hadits, yaitu baik dalam tutur bahasa.

Mengenai boleh atau tidak wanita melakukan masîrah, jelas hukumnya adalah mubah:
Pertama, dilihat dari aspek penglibatan mereka (kaum wanita) menyertai masîrah(perarakan), atau rombongan perjalanan bersama kaum lelaki di tempat umum. Dalam hal ini dibolehkan,  dengan atau tanpa mahram. Dalilnya, pada ketika hijrah ke Habsyah, selain kaum laki-laki juga terdapat 16 kaum wanita yang ikut serta dalam rombongan perjalanan tersebut.[3]

Kedua, dilihat dari aspek ucapan seruan, pidato atau penyampaian pendapat di tempat umum hukumnya juga mubah; dilihat dari sudut bahwa suara wanita jelas bukan merupakan aurat. Ini dibuktikan dengan tindakan para sahabat lelaki yang biasa bertanya kepada Saidatina‘Aisyah, jika mereka mempunyai sebarang permasalahan atau persoalan termasuk mengenai kehidupan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam

Di samping itu, boleh juga dilihat dari sudut penyampaian pendapat atau bantahan. Dalam hal ini, Ijma’ Sahabat telah menyatakan kemubahan sikap seorang wanita membantah dasar-dasar yang dibuat oleh penguasa, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang wanita terhadap ‘Umar bin al-Khatthab selaku khalifah dalam urusan penetapan mahar. (Lihat penuturan Abu Hatim al-Basti, dalam Musnad sahihnya, dari Abu al-Ajfa’ as-Salami).

Dalam hal ini, tidak seorang sahabat pun yang melarang tindakan wanita tersebut; malahan mereka hanya membiarkannya. Padahal, tindakan tersebut dilakukan di tempat umum, di hadapan semua orang, dan jika bertentangan dengan hukum, perkara tersebut pastinya telah dilarang oleh mereka.[4]

Tindakan muhâsabah seperti ini juga telah dilakukan oleh para Sahabiyah, seperti yang dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar ketika menegur dan membetulkan tindakan para penguasa Bani Umayah yang selalu menghina keluarga ‘Ali bin Abi Thalib di atas mimbar-mimbar masjid.[5]

Dalil-dalil di atas dengan jelas membuktikan, bahawa masîrah (perarakan) sebagai sebuah uslûb (cara) untuk berdakwah dan menyampaikan pandangan hukum syara’ atau bantahan terhadap pelanggaran hukum syara’ jelas hukumnya mubah. Kemubahan tersebut juga diguna pakai bukan hanya untuk kaum laki-laki, tetapi juga untuk para wanita. Sebagaimana dalil-dalil dan alasan yang dikemukakan di atas. Wallâhu a‘lam.

[1] Ba’albakki, Qamus al-Mawrid: Arabiyyah-Injeliziyyah, materi: Masirah.
[2] V.I. Lennin, Where to Begin, dalam V.I. Lenin, Collected Works, cet. IV, Foreign Languages Publishing House, Moscow, 1961, V/13-24.
[3] Ibn Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, ed. Thaha ‘Abd ar-Ra’uf Sa’ad, Dar al-Jil, Beirut, cet. I, 1411, V/15.
[4] Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, ed. Ahmad ‘Abd al-’Alim al-Barduni, Dar as-Sya’b, Beirut, cet. II, 1372, V/99.
[5] Al-Ya’qubi, Târîkh al-Ya’qûbi, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, t.t.

Sumber:Hizbut Tahrir Indonesia (post Muslimah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: