Oleh: nocompromisegirl | 25 Maret 2009

SEBUAH PERENUNGAN TUK PARA AKHWAT

Kriiiing, kriiing, kriiing, pak pos lewat tepat
didepan sekumpulan akhwat yg sedang LIQO’ (ngaji), tiba-tiba pak pos
menghampiri mereka

“assalamu’alaikum”

“waa’alaikumussalam”

“afwan, ukhti…ini ada surat untuk mujahidah” kata pak pos

“Ooooh…syukron pak”

“ya..afwan” jawab pak pos singkat, sesingkat beliau mampir ketempat itu

“assalamu’alaikum” pamit pak pos

“wa’alaikumsalam”
jawab jilbaber serempak tak sabaran mereka pun membuka surat yg baru
saja diterimanya. Bereweeeek, sebuah amplop berwarna pink disobek, lalu
seorang murobbiyah pun membacanya, dan mutarobbiyah khusya
mendengarkannya.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” seuntai kata dari surat itu mulai dibaca.

“wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab jilbaber lagi-lagi kompak.

“ukhti…yang dinantikan syurga” satu persatu murobbiyah mulai mengalirkan kata-kata surat yang di bacanya.

Ukhti…
besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat
jihadmu menuju ridho tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya
digunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin
kerudung besarmu hanya dijadikan alat perangkap busuk supaya
mendapatkan ikhwan yang diidamkan bahkan bisa jadi kerudung besarmu
hanya akan dijadsikan identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar
akhwat dan dikagumi oleh banyak ikhwan.

Ukhti…tertutupnya
tubuh mu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluarhamu, bahkan
diri antum sendiri. Coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudara
mu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah
kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa disadari
melalui ocehan-ocehan kecil, sudah membekas semua aib keluargamu, aib
saudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manismu.

Ukhti…lembutnya
suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih daripada itu, tapi akankah
kelembutan suara antum sama dengan lembutnya kasihmu pada saudaramu,
pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang
menginginkan kelembutan dan kasih sayang mu.

Ukhti…lemnutnya
parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju
yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan
anak-anak Paletina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan
jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir,
akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang
ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Ukhti…Rajinnya
tilawahmu tak menjamin serajin dengan sholat malammu, mungkinkah
malam-malammu di lewati rasa rindu menuju Tuhanmu dengan bangun
ditengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh
ke tempat sujudmu derta lantunan tilawah yang tak henti-hetinya berucap
membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu
selalu diselimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan
dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun sholat shubuh.

Ukhti…cerdasnya
dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu,
mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti
yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan
kecerdasan temanmu, saudaramu, bahkan keluargamu, sehingga
membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh kedalam lubang yang
sangat mengerikan yaitu maksiat.

Ukhti…tajamnya
tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjami sama dengan
tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas
dipalestina, pernahkah antum menangis ketika mujahid-mijahidah kecil
tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja,
pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya berjihad yang di lakukan
oleh para mujahidah-mijahidah teladan.

Ukhti…lirikan
matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati
saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia
sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahakan keluarga antum sendiri
belum merasakan manisnya islam dan iman, mereka belum merasakan apa
yang antum rasakan, bisa jadi salah satu keluargamu masih gemar
bermaksiat, berpakaian seksi dan berperilaku binatang yang tak karuan,
sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa
merasakan sama dengan apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup
dalam kemulyaan Islam.

Ukhti…tebalnya
kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang kholikmu, antum
adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari
semua penjuru mulai dari depan, belakang, atas, bawah semua setan
mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dala ancaman, tidak lama lagi
imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak
betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai
dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya dilakukan
sejak dari sekarang, kapan lagi coba?

Ukhti…putihnya
kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu
bahkan keluarga mu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai
penyakit yang merugikan sepeti riya dan sombong, pernahkah antum
membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah
diraih dan merasa diri paling wah merasa diri paling aktif, bahkan
merasa diri paling cerdas diatas rata-rata akhwat yang lain, sesombong
itukah hatimu, lalu dimanakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu.

Ukhti…rutinnya
halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin kamis yang antum
laksanakan, kejujuran hati tidak bisa dibohongi, kadang semangat fisik
begitu
bergelora untuk
dilaksanakan tapi semangat ruhani tanpa disadari turun drastis, puasa
yaumul bith pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang dirasakan
terlalu sering dalam sepekan, separah itukah hati antum, makanan fisik
yang antum fikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh makanan, kita tidak
pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi

Ukhti…manisnya
senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang
sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan antum
lewati, sikap ramahmu pada orang yang ssering antum temui sangat jarang
terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuex dan menyebalkan, kalau
itu kenyataannya bagaimana orang lain akan simpati terhadap komunitas
dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan
antum tapi antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan
dakwah.

Ukhti…dirimu
bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama
harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang
mujahid akan segera menghampirimu.

Ukhti…masih
ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini
bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu

Ukhti…baik
buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam
syurga rabbmu. Maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang
molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul
terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

Ukhti…muhasabah
yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung
kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang di lakukan siang hari, atau
bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu,
sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan
sebelumtidur, antum tidur mendengkur bagitu saja dan tidak pernah kenal
apa itu muhasabah sampai kapan akhlak busukmu di lupakan, kenapa
muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah
akhwat yang hanya akan mendapatkan ikhhwah yang baik

Ukhti…pernahkah
antum bercita-cita mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang
manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa
yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin
mencari istri yang sholehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari
sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorang mujahidah yang
sholehah

Ukhti…apalah
kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum,
seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv
yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati sampai lupa waktu,
lupa bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang biruwalidain, kalau
memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat
gelar mujahidah atau akhwat solehah

Ukhti…apakah
pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat
seorang ikhwan dan terlepas dari itu mata mu kembali jelalatan layaknya
mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandanganmu hanya menjadi
alasan belaka karena merasa berkerudung besar..

Ukhti…hatimu
di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang,
sanggupkah antum menjaga izzah yang anum punya, arau sebaliknya antum
bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan
merusak citra dakwah yang lain,kadang orang lain akan mempunyai
persepsi disama ratakan antara akhwat yang satu dengan yang lain, jadi
kalo antum membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat
yang lain

Ukhti…dirimu
menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan
brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi
semua orang menginginkan istri yang sholehah, siapkah antum menjadi
istri yang sholehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang”

Selesai
membaca, tak terasa murobbiyah dan mutarobbiyah pun mengeluarkan
butiran-butiran air mata, mereka menangis, meratapi dan muhasabah
bersama dalam liqo’atnya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: