Oleh: nocompromisegirl | 23 Maret 2009

Meretas Jalan Menuju Perubahan Hakiki (Telaah Atas Buku Manhaj Hizb At-Tahrir Fi At-Taghyir)

Pengantar
Buku Manhaj Hizb at-Tahrîr fî at-Taghyîr awalnya adalah naskah pidato yang disampaikan oleh delegasi Hizb Tahrir pada konferensi ISNA (Islamic Society of North America) tanggal 24 Jumadil Ula 1410 H (22 Desember 1989 M) di negara bagian Missouri, Amerika Serikat. Selanjutnya, naskah pidato ini diformat menjadi sebuah kutayb (kitab kecil), yang di kemudian hari menjadi panduan bagi siapa saja yang hendak mengetahui manhaj dakwah Hizbut Tahrir dalam mengubah masyarakat kufur.
Buku ini diketengahkan untuk mengulas metode dakwah Hizbut Tahrir dalam mengubah masyarakat kufur menuju masyarakat Islam. Fokusnya adalah pada tiga mainstream gagasan:
(1) permasalahan utama umat Islam yang seharusnya dijadikan konsens dan prioritas utama gerakan Islam;
(2) pandangan dan sikap terhadap perubahan masyarakat;
(3) manhaj (metode) dakwah untuk mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam.
Permasalahan Utama Umat
Jika dokter hendak mengobati seorang pasien, ia harus mendiagnosis terlebih dulu apa penyebab utama penyakit sang pasien. Dokter “tidak boleh salah” sedikitpun dalam mengidentifikasi masalah ini. Sebab, kesalahan dalam mengidentifikasi masalah ini akan berdampak pada langkah medis berikutnya. Jika identifikasi terhadap sumber penyakitnya salah, obat yang diberikan kepada pasien pun salah, perlakuan medis juga salah, dan semua langkah berikutnya pasti salah. Akibatnya, pasien tidak pernah sembuh dari sakitnya, bahkan bisa-bisa mati secara tragis, atau terkena komplikasi kronis.
Kesalahan identifikasi terhadap persoalan utama umat Islam juga akan mengakibatkan kesalahan pada penentuan tujuan dan metode dakwah, konsentrasi amal, persiapan-persiapan, serta perkara-perkara cabang lainnya. Dengan kata lain, kesalahan dalam perkara ini akan berimplikasi signifikan pada langkah-langkah selanjutnya.
Untuk itu, pengkajian terhadap persoalan utama kaum Muslim harus dilakukan dengan teliti. Dengan itu, upaya yang dilakukan oleh gerakan dakwah Islam bisa benar-benar menyelesaikan akar masalah sesungguhnya. Dengan itu pula, gerakan-gerakan Islam tidak memboroskan waktu dan energi umat pada perjuangan-perjuangan yang sebenarnya tidak menyentuh substansi dasar permasalahan umat.
Pada alinea pertama buku ini dinyatakan bahwa, persoalan utama umat Islam adalah bagaimana menerapkan kembali syariah Islam dengan cara menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa: (1) negeri-negeri tempat kaum Muslim hidup adalah negeri kufur; (2) masyarakatnya diatur dengan aturan-aturan kufur. Dua faktor inilah yang menjadikan umat Islam terus terpuruk dan mundur.
Karena itu, pada bagian awal buku ini dijelaskan secara mendalam syarat-syarat Dâr al-Islâm (Negara Islam). Dengan begitu, umat yakin bahwa negeri tempat mereka hidup adalah negeri kufur yang harus diubah dan diganti menjadi Dâr al-Islâm (Khilafah Islamiyah), bukan malah didukung dan dilanggengkan eksistensinya.
Adapun jika ditinjau dari sisi realitas masyarakat, sesungguhnya masyarakat saat ini tidak lagi diatur dengan hukum-hukum Islam. Kalaupun ada penerapan hukum Islam, itu hanya yang berhubungan dengan sektor privat. Sektor publik seperti ekonomi, pemerintahan, politik, pendidikan, sosial, dan sebagainya diatur dengan hukum-hukum kufur. Penerapan sebagian hukum Islam oleh beberapa negeri kaum Muslim, seperti Saudi Arabia, Iran, dan lain-lain tidak mengubah status negeri tersebut sebagai negeri kufur yang wajib diubah menjadi Dâr al-Islâm.
Telaah Kritis
Dari keterangan di atas dapatlah dipahami, mengapa buku ini begitu bersemangat mengkritisi gerakan-gerakan Islam yang tidak menjadikan “penegakkan Khilafah Islamiyah” sebagai prioritas perjuangan mereka. Sebabnya, penerapan Islam secara kâffah, persatuan seluruh kaum Muslim di bawah satu kepemimpinan, terbangunnya masyarakat Islam, dan kembalinya supremasi kekuasaan Islam hanya bisa diwujudkan jika Khilafah Islamiyah telah tegak di tengah-tengah mereka. Seandainya seluruh gerakan dakwah Islam menjadikan tegaknya Khilafah Islamiyah sebagai fokus perjuangannya, niscaya penerapan Islam secara kâffah, persatuan seluruh kaum Muslim di bawah satu kepemimpinan, dan terbangunnya masyarakat Islam bisa diwujudkan dengan segera.
Atas dasar itu, gerakan Islam yang tidak menjadikan permasalahan ini sebagai fokus utama perjuangannya dianggap telah gagal. Mereka justru telah memboroskan waktu dan energi umat pada aktivitas yang tidak pernah bisa mengantarkan mereka menuju kebangkitan hakiki.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh gerakan Islam? Aktivitas apa yang harus dijadikan prioritas utama? Metode dakwah seperti apa yang harusnya ditempuh oleh gerakan Islam agar aktivitasnya tidak menyimpang dari sunnah, dan benar-benar mampu menyelesaikan persoalan umat? Buku Manhaj Hizb at-Tahrîr fî at-Taghyîr hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Pandangan dan Sikap Hizbut Tahrir
Pengkajian yang teliti dan mendalam terhadap realitas Dunia Islam dan kegagalan gerakan Islam dalam membangkitkan umat telah memberikan kesadaran kepada Syaikh Taqiyuddin untuk mendirikan sebuah partai politik Islam. Parpol ini bertujuan menegakkan kembali hukum-hukum Islam secara kâffah melalui penegakkan Khilafah Islamiyah.
Agar tidak menyimpang dari tujuan ini, Hizbut Tahrir mengkonsentrasikan dan membatasi dirinya pada aktivitas politik saja. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa hanya dengan aktivitas politiklah kekuasaan bisa diraih. Kekuasaan itu sendiri jelas mutlak diperlukan untuk menegakkan Khilafah Islamiyah demi menerapkan syariah Islam secara kâffah. Untuk itu, Hizbut Tahrir tidak akan menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas lain, selain perjuangan politik. Sebab, tatkala sebuah partai telah berpaling dari aktivitas ini, niscaya ia tidak akan bisa meraih kekuasaan. Hanya saja, Hizbut Tahrir menyadari sepenuhnya, bahwa tujuan partai bukanlah kekuasaan, tetapi menerapkan syariah Islam secara kâffah.
Sikap dan pandangan Hizbut Tahrir yang menonjol dan khas adalah sebagai berikut.
Pertama: Hizbut Tahrir selalu berpedoman untuk menjadikan syariah Islam sebagai asas bagi kebijakan dan sikap partai. Halal-haram adalah standar bagi seluruh tindakan dan aktivitasnya. Hizbut Tahrir tidak pernah mentoleransi setiap perkara yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. Untuk itu, Hizbut Tahrir berpandangan, bahwa agama dan ideologi selain Islam adalah kufur. Untuk itu, siapa saja yang menyakini Kapitalisme, Sosialisme, Yahudi, Kristen, Liberalisme dan lain-lain berarti telah kafir. Hizbut Tahrir juga berpandangan bahwa, menyerukan nasionalisme, demokrasi, sekularisme, fanatisme mazhab, dan lain sebagainya adalah tindakan haram mendirikan partai untuk menyerukan ide-ide selain Islam adalah juga haram secara mutlak.
Kedua: Hizbut Tahrir juga tidak pernah berkompromi dan memberikan loyalitas kepada para penguasa, konstitusi dan perundang-undangan mereka dengan dalih hal ini akan membantu dakwah. Sebab, konstitusi dan peraturan yang mereka terapkan adalah peraturan kufur sehingga harus dihilangkan dan diganti dengan hukum Islam. Sesungguhnya, dalam pandangan Hizbut Tahrir, para penguasa ini adalah orang-orang fasik dan zalim karena telah menerapkan hukum-hukum kufur. Lebih dari itu, Hizbut Tahrir telah menganggap kafir setiap orang, baik penguasa maupun rakyat, yang mengingkari kemampuan dan kelayakan syariah Islam dalam menyelesaikan persoalan umat.
Ketiga: Hizbut Tahrir menolak bergabung dengan sistem pemerintahan kufur. Sebab, bergabung dengan hukum-hukum kufur yang jelas-jelas haram bagi kaum Muslim. Sebaliknya, Hizbut Tahrir akan mengguncang kedudukan mereka dan menggugat sistem perundangan kufur mereka.
Keempat: Hizbut Tahrir berjuang untuk menerapkan Islam secara sempurna, serentak, dan tidak bertahap; dengan cara menegakkan Khilafah Islamiyah.
Manhaj Dakwah Hizbut Tahrir
Untuk mewujudkan tujuan-tujuannya, Hizbut Tahrir telah menggariskan metode dakwah sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah saw. Apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat dalam menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah.
Berdasarkan perjalanan dakwah Rasulullah saw. dalam menegakkan Daulah Islamiyah (Negara Islam), mengubah darul kufur menjadi Darul Islam, dan mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam, Hizbut Tahrir menempuh dakwahnya dalam tiga fase.
Pertama: fase pembinaan. Fase ini ditujukan untuk melahirkan individu-individu yang menyakini fikrah (ide) dan tharîqah (metode) Hizbut Tahrir guna membangun kerangka gerakan. Di dalam fase ini, terjadi proses internalisasi fikrah-fikrah Hizbut Tahrir hingga melahirkan kader-kader dakwah yang siap terjun mengubah masyarakat kufur.
Kedua: fase berinteraksi dengan masyarakat. Fase ini bertujuan untuk menggugah kesadaran umat terhadap realitas masyarakatnya. Dengan begitu, mereka tergugah untuk menjadikan penerapan syariah Islam sebagai persoalan utama dalam hidupnya. Di dalam fase ini, Hizbut Tahrir melakukan kegiatan-kegiatan berikut: tatsqîf murakkazah (pembinaan intensif); tatsqîf jama‘i (pembinaan kolektif) di tengah-tengah masyarakat, shirâ’ al-fikr (pergolakan pemikiran) untuk menyerang ideologi, aturan-aturan, dan ide-ide kufur; kifâh as-siyâsi (perjuangan politik) menghadapi dominasi, hegemoni serta penjajahan negara-negara kafir yang mereka lakukan di bidang ekonomi, politik, militer, sosial budaya, dan lain sebagainya. Kifâh siyâsi juga mencakup upaya-upaya untuk menentang para penguasa di negara-negara Arab maupun non-Arab; mengungkap makar dan konspirasi mereka melawan Islam dan kaum Muslim dan persekongkolan para penguasa tersebut dengan negara-negara kafir; mengganti sistem pemerintahan mereka yang menerapkan perundang-undangan dan hukum-hukum kufur. Di dalam fase kedua ini, Hizbut Tahrir juga melakukan tabanni mashâlih al-ummah, yakni aktivitas mengadopsi dan menetapkan kemaslahatan umat dengan cara melayani dan mengatur urusan umat sesuai dengan hukum syariah.
Selain langkah-langkah di atas, Hizbut Tahrir juga menetapkan thalab an-nushrah (menggalang dukungan/pertolongan) sebagai tharîqah dakwah yang wajib ditempuh. Thalab an-nusrah merupakan tharîqah dakwah Rasulullah saw. yang ditujukan untuk dua alasan: (1) menjaga agama dan melindungi para pengemban dakwah dari siksaan, ancaman, maupun teror yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam; meraih kekuasaan dalam rangka menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah dan menerapkan kembali hukum-hukum Allah Swt.
Ketiga: fase penerimaan kekuasaan dari umat dan penerapan hukum Islam secara menyeluruh serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Fase ini ditandai dengan keberhasilan Hizbut Tahrir meraih kekuasaan dari tangan umat, yang selanjutnya kekuasaan ini digunakan untuk menegakkan Khilafah Islamiyah dan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh di seluruh dimensi kehidupan.
Dari buku ini, kita mendapatkan gagasan segar mengenai paradigma, sikap dan pandangan yang harus dimiliki oleh gerakan Islam, serta metode perjuangan yang harus ditempuhnya. Selain itu, buku ini telah mengajarkan satu hal penting bagi kita, yakni keharusan untuk selalu fokus pada persoalan utama umat Islam, tanpa pernah bergeser sedikitpun, dan tidak pernah berkompromi sedikitpun dengan sistem kufur dan para penjaganya. [Syamsuddin Ramadlan al-Nawiy]

Iklan

Responses

  1. Ass. Wr. Wb.
    Tulisannya bagus … kunjungi blog ana http://laodesabaruddin.wordpress.com

  2. Jazakallah,,,
    InsyaAllah akan saya kunjungi blog antum..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: