[Al-Islam 486] “Persatuan Umat, Kunci Kebangkitan Islam.” Itulah judul sekaligus ringkasan rekomendasi penting dari perhelatan Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia yang diselenggarakan PBNU, 19-20 Desember 2009 di Jakarta (Republika, 21/12/09).

Pada kesempatan yang sama, Menkopolkam Djoko Suyanto menyatakan, “Keterbelahan umat Islam didasari oleh rendahnya pendidikan dan tingkat ekonomi mereka. Kondisi itu semakin diperparah dengan munculnya berbagai pertentangan internal umat, totalitarianisme di sejumlah negara dan standar ganda yang ditetapkan negara-negara Barat…” (Kompas, 20/12/09).

Karena itu, mengakhiri tahun 2009 ini, sekaligus mengawali tahun baru 1431 Hijrah, tentu penting bagi umat Islam untuk mengevaluasi (muhâsabah) diri terkait dengan berbagai fakta keterbelahan dan keterbelakangan umat sekaligus memahami akar penyebabnya. Lebih dari itu, umat tentu harus menyadari apa solusi hakiki dari berbagai fakta fâsid (rusak) tersebut.

Cahaya Kesadaran

Harus diakui, persatuan umat yang berlangsung berabad-abad lamanya kini terkoyak. Kaum Muslim yang berjumlah 1,4 miliar lebih seolah tak ada artinya dalam kancah kehidupan dunia. Kaum Muslim dipecah-belah oleh penjajah ke dalam negara-bangsa, lebih dari 50 negara. Mereka kemudian dijadikan bahan bulan-bulanan penjajah.

Kenyataan ini persis seperti yang digambarkan Baginda Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Hampir saja bangsa-bangsa lain menyerang kalian dari berbagai penjuru, bagaikan rayap-rayap menyerang tempat makan mereka.” Para Sahabat bertanya, “Apakah hal itu karena kita pada waktu itu jumlahnya sedikit?” Rasulullah menjawab, “Tidak. Bahkan kalian pada waktu itu banyak. Namun, kalian saat itu bagaikan buih air bah. Sesungguhnya Allah mencabut kewibawaan kalian dan pada waktu yang sama Allah menanamkan wahn dalam hati kalian.” Para Sahabat bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Kondisi keterpecahan itu semakin diperparah dengan hadirnya para penguasa pengkhianat yang menjadi penyambung lidah para penjajah. Bak anjing pudel, para penguasa ini mengabdi kepada tuannya, penjajah Barat, meski harus dengan mengorbankan rakyatnya sendiri.

Konflik-konflik antar anak umat muncul di berbagai negeri tak pernah berhenti. Contoh: kasus perseteruan Sunni dan Syiah di kawasan yang bergolak saat ini, Irak, mencuat setelah serangan Amerika ke negeri 1001 malam tersebut tahun 2003. Sunni dan Syiah tak hanya beradu mulut, tetapi saling menumpahkan darah. Padahal mereka tak pernah bertikai sebelum serangan Amerika itu. Ini jelas tidak lepas dari skenario jahat Barat/AS untuk terus memecah-belah umat Islam.

Di Palestina dua kubu saling beradu. Hamas dan Fatah yang lahir dari kondisi keterjajahan ternyata tak rukun ketika menghadapi penjajah. Fatah justru dekat dengan Israel dan dengan berani mengakui Israel sebagai sebuah negara. Atas arahan Barat, para pemimpin negeri-negeri Islam membebek menyerahkan nasib Palestina di bawah agresor Zionis Israel. Para penguasa pengkhianat umat tersebut malah membuatkan benteng dan penjara besar bagi umat Islam di Palestina, yang menjadikan mereka setiap harinya hidup dengan ‘menu’ derita nestapa di atas tumpukan mayat, darah dan linangan air mata.

Umat juga menyaksikan bagaimana Afganistan dibuat porak-poranda oleh agresor Amerika atas dukungan para penguasa bonekanya yang bercokol di sana. Para penguasa pengkhianat itu bahkan rela menumpahkan darah kaum Muslim yang notabene adalah saudara seiman mereka.

Ketertindasan umat Islam yang minoritas juga menjadi pemandangan yang tidak pernah berakhir. Kaum Muslim di Cina, India, Moro, Rohingya, Kirghistan, dll, termasuk di sejumlah negeri Barat sendiri, saat ini terus-menerus diintimidasi di luar batas kemanusiaan.

Di Indonesia kaum Muslim juga tak kalah memprihatinkan. Partai-partai politik yang berafiliasi ke pemilih Muslim saling bersaing. Alih-alih memperjuangkan tegaknya kehidupan islami dengan berusaha menerapkan syariah Islam, para aktivis partai-partai Islam hanya duduk di kursi parlemen untuk kepentingannya sendiri, paling banter untuk kepentingan partainya. Suara-suara perjuangan Islam nyaris tak terdengar, kecuali kalau terkait dengan kepentingan mereka.

Dalam kondisi seperti itu, serangan Barat terus menusuk ke jantung pertahanan kaum Muslim. Barat melemparkan berbagai jargon dan labelisasi yang menjadikan umat makin terbelah. Barat menyebut moderat kalangan Islam yang mau dekat dengannya. Sebaliknya, mereka melabeli siapapun dari kalangan Muslim yang dengan gigih memperjuangkan tegaknya Islam dengan label fundamentalis, teroris dan radikal. Perpecahan pun tak terelakkan, kendati masih terkendali.

Namun demikian, lambat-laun keadaan sekarang berbalik. Rekomendasi yang dibacakan dalam kegiatan di atas sedikitnya mengisyaratkan bahwa cahaya kesadaran mulai tumbuh dan menyentuh semua level umat Islam, dari kalangan cendekiawan hingga orang awam. Perasaan senasib sepenanggungan memancar dari benak umat. Derita dan nestapa di berbagai penjuru Dunia Islam menjadi pemicu cita-cita bersama: mewujudkan persatuan umat Islam sedunia!

Persatuan Umat: Butuh Khilafah

Persatuan umat Islam sedunia secara spiritual dan politik adalah keniscayaan yang tidak bisa terbantahkan. Pentingnya persatuan umat sedunia ini dilandasi oleh: (1) aspek normatif (syariah), yakni perintah dalam al-Quran dan as-Sunnah mengenai kewajiban umat untuk bersatu; (2) aspek historis (sejarah), yakni umat Islam selama berabad-abad bersatu dalam sejarah emas Kekhilafahan Islam; (3) fakta empirik saat ini, yakni umat memang butuh untuk membangun persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan global ke depan.

Aspek pertama: secara normatif umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan yang satu (Allah SWT), menghadap ke kiblat yang satu (Ka’bah), berpedoman pada kitab yang satu (al-Quran) serta meneladani Rasul saw. yang sama (Rasulullah saw. Muhammad saw.). Mereka juga diperintahkan hidup bermasyarakat di bawah kepemimpinan yang satu. Itulah Khilafah Islamiyah yang dipimpin seorang khalifah. Persatuan umat di bawah Khilafah inilah yang merupakan persatuan dan kesatuan yang sesungguhnya. Di bawah seorang khalifah, kepemimpinan Islam sedunia ini akan mempersatukan seluruh negeri-negeri Islam; mengatur dan mengurus mereka dengan syariah Islam; menghimpun potensi dan kekuatan umat Islam di seluruh dunia untuk mengukir kembali kejayaan Islam serta mengembalikan tanah-tanah dan berbagai sumberdaya alam kaum Muslim yang telah dirampas dan direbut secara paksa oleh rezim penjajah. Di bawah Khilafah pula umat ini bisa mengibarkan bendera jihad dan panji dakwah Islam ke seluruh dunia hingga dunia merasakan kebahagiaan hidup dalam naungan Islam.

Sebaliknya, Islam telah melarang perpecahan umat Islam yang akan berakibat pada kegagalan. Allah SWT antara lain berfirman:

وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُم

Janganlah kalian berbantah-bantahan hingga mengakibatkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan (QS al-Anfal [8]: 46).

Rasulullah saw. bahkan bersabda:

»إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخَرَ مِنْهُمَا«

Jika ada dua orang khalifah dibaiat (diangkat) maka bunuhlah yang terakhir dibaiat (‘khalifah tandingan’) (HR Muslim).

Hadis di atas menegasakan keharaman lebih dari satu orang imam/khalifah yang memimpin umat Islam. Dalam hadis itu pun terdapat kewajiban umat Islam untuk memerangi khalifah yang dibaiat terakhir untuk mencegah terjadinya perpecahan yang akan mengakibatkan umat Islam tidak bersatu.

Aspek kedua: umat Islam lebih dari sepuluh abad hidup dalam satu kepemimpinan, yakni Khilafah yang dipimpin seorang khalifah. Khalifah menjadi perisai tempat umat berlindung, bahkan menjadi benteng dari segala hal yang akan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan mereka. Khalifah juga menjadi penjaga stabilitas kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik dan pemerintahan.

Aspek ketiga: kenyataan empirik saat ini menunjukkan bahwa sejumlah bangsa dan negara mulai cenderung untuk ‘bersatu’ dalam berbagai aspek (ekonomi, militer dan hukum) untuk menghadapi tantangan globlal ke depan. Uni Eropa adalah salah satu contohnya. Gagasan Uni Eropa muncul sejak tahun 1950-an. Setelah melalui proses perundingan yang tidak pernah berhenti, ide besar itu baru terwujud pada tahun 1992, yakni ketika perjanjian ditandatangani di kota Maastrich, Belanda. Artinya, kesatuan Eropa baru terwujud 40 tahun kemudian. Pada awalnya Uni Eropa hanya diikuti oleh 12 negara. Sekarang tidak kurang dari 23 negara ikut dalam Uni Eropa. Mereka didorong oleh rasionalitas, bahwa konsep negara-bangsa (nation state) makin kehilangan daya untuk menghadapi percaturan global saat ini dan pada masa yang akan datang. Karena itu, Uni Eropa menjadi kebutuhan mereka.

Khilafah: Kunci Kebangkitan Umat Islam

Dibandingkan dengan Uni Eropa yang tidak punya landasan historis, teoretis apalagi teologis, gagasan Khilafah Islam jelas memiliki semua landasan untuk tegak berdiri: teologis (akidah), normatif (syariah) maupun historis (sejarah). Ide Khilafah Ini juga sangat rasional. Jika Khilafah Islam tegak maka ia berpotensi menyatukan 1,4 miliar umat Islam di seluruh dunia; menghimpun sebagian besar kekayaan sumberdaya alam yang umumnya di miliki negeri-negeri Islam; bahkan menggalang kekuatan militer/tentara dalam jumlah amat besar.

Potret masa depan umat Islam yang besar inilah yang tidak dikehendaki oleh Barat. Sebab, mereka sadar, jika Khilafah tegak dan mempersatukan umat Islam sedunia, dominasi dan penjajahan mereka akan segera berakhir. Karena itu, umat Islam harus sadar bahwa keterbelahan umat Islam sejak awal memang menjadi cita-cita kaum penjajah Barat dan mereka akan terus membuat skenario untuk memeliharan keterbelahan umat tersebut. Salah satunya adalah dengan terus-menerus memojokkan ide Khilafah sekaligus memerangi kaum Mulsim yang berjuang untuk menegakkan Khilafah.

Karena itu, umat harus sadar, Khilafah adalah kunci persatuan umat Islam sedunia. Khilafah pula yang bakal menegakkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, yang tentu bakal menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Walhasil, penting bagi Muslim manapun untuk terus menyuarakan persatuan umat Islam sedunia. Namun, lebih penting lagi umat ini untuk terus menyuarakan, bahwa persatuan umat Islam sedunia tak akan pernah benar-benar bisa terwujud, kecuali dalam satu kepemimpinan Khilafah Islamiyah. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Arifin Ilham: Permasalahan besar umat dan bangsa saat ini adalah kerusakan moral (Republika, 22/12/2009).

Kerusakan moral hanyalah salah satu akibat dari kerusakan sistem yang diterapkan di negeri ini, yakni sistem sekular.

Ada Doorprize 5 Tabloid D’Rise edisi -3 buat peserta yang beruntung. Check This Out!!

Ahad, 27 Desember 2009

at Masjid Toserba Selamat Kota Sukabumi

Pukul 08.30-10.30

dengan TEMA, ” CANTIK IS BEAUTIFUL WITH SYARIAH”

Pembicara: Vinsi Pamungkas, S.Pd Kim

Song by: Thufail al Ghifari
Lyric by: Ustadzah Ir. Lathifah Musa

Ketika Kami di USIA DINI
Kalian pagari dengan tayangan kebebasan
Para perempuan yang tak punya kehormatan
Mengumbar aurat dan bangga
Bangga dengan maksiat
Bebas berbuat
laki-laki dan perempuan
Tak ada batasan saling merusak kesucian
Kalian sebut ini kemodernan

Propaganda menyesatkan kalian cekoki kami
Tentang ibu yang tak perlu taat suami
Tentang Ayah yang tak harus jadi wali
Tentang harus serupa perempuan laki-laki
Tentang semua agama yang sama tinggi
Padahal kami generasi penerus risalah Para Nabi

Kalian telah rusak karakter-karakter keislaman kami

Chorus :

Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka

Ketika Kami MENJELANG BALIGH
Kalian jauhkan kami dari al-Qur’an
Kitab Suci Mulia, sumber utama
pendidikan Wahyu Surga

Hingga kami tak kenal Keagungan Rabb Agung
Allah pencipta manusia, alam semesta
dan kehidupan dunia akhirat

Kalian tanamkan bahwa asal usul manusia
berawal dari protein
yang menjelma menjadi hewan melata
Kalian ajarkan materi tak dapat diciptakan
dan tak dapat dimusnahkan
Kalian katakan kehidupan adalah reaksi
sempurna unsur-unsur alam
Dimana tak ada Allah yang boleh berperan mengatur manusia yang Ia ciptakan

Lalu kalian kenalkan ide kebebasan
mengatur hidup kami Dengan UU dan hukum
yang telah kalian buat sendiri
lalu campakkan kami dari Syariat Agung Pencipta kami
Di atas jargon Kebebasan demokrasi basi

Chorus :

Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka

Ketika Kami AQIL BALIGH
Kalian katakan kami masih anak-anak
Begitulah rekayasa Undang-undang Perlindungan Anak
Kalian bilang kami masih di bawah umur,
hanya karena usia kami baru dua belas tahun
padahal kalianlah yang belum dewasa
walau usia kalian sudah lebih dari delapan belas tahun

Kamipun dibiarkan hidup bebas tak terikat
Tak ada beban walau tinggalkan sholat
Tak masalah walau umbar aurat
Tak peduli hidup kami hanya untuk kesenangan sesaat

Kalian cekoki kami dengan paham liberal
hedonisme bebal
Kalian sediakan kontrasepsi
Agar seks bebas tak kami takuti
sambil larang kami menikah dini
Walau di usia yang Allah ijini
Kalian sarankan kami untuk berzina dengan kondomisasi

Chorus :

Wahai Ayah-Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami Seluruh remaja negri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka

Ketika noda mencederai kehormatan dan terjadi Kehamilan
Kalian menyebutnya Kehamilan tak Diinginkan
Kalian ajarkan membunuh janin-janin bukan suatu kesalahan
Dengan UU yang membolehkan Aborsi yang kalian legalkan
Dan UU Kesehatan Reproduksi Remaja produksi setan

Dan KINI
Jadilah kami para pezina
Jadilah kami pembunuh janin-janin yang meronta
Kami pun lari ke lingkar Narkoba
Terjangkit penyakit-penyakit berbahaya
Merusak akal, fisik, masa depan dan jiwa
Saat itulah kami menyaksikan dengan merana
Jaringan Iblis Liberal tertawa
Wahai anak cucu Adam, selamat menjadi bahan bakar Neraka !

Chorus :

Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami

Belum genap seminggu yang lalu, baru saja kita memperingati Hari Antikorupsi Internasional. Di Indonesia, peringatan Hari Antikorupsi diwarnai dengan aksi damai yang dilaksanakan di beberapa wilayah oleh beberapa ormas masyarakat dan gerakan pemuda. Aksi diselenggarakan di Makassar, Surabaya, DIY, Bandung, Medan, Bali, Semarang, Cirebon , Aceh, dan Blitar sedangkan puncak aksi dilaksanakan di Bundaran HI Jakarta. Berikut ini adalah beberapa ormas/LSM/gerakan yang ikut serta menjadi bagian dari para peserta aksi, diantaranya: PP Muhammadiyah, PBNU, PB HMI, KAMMI, GKMI, PMKRI, GMNI, KMHDI, PMII, BKPRMI, IMM, KOMPAK dan banyak lagi (Sumber: Pusat Data Republika). Tidak tanggung-tanggung, untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan dalam pelaksanaan aksi ini, kekuatan personel polisi yang diturunkan di lokasi aksi mencapai 4239 personel. Namun ada juga beberapa ormas dan gerakan yang menggelar aksi beberapa hari sebelum Hari Antikorupsi, diantaranya: Hari Ahad kemarin tanggal 6 Desember HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) bersama umat melakukan aksi serentak di seluruh Indonesia, dengan tema “Selamatkan Indonesia dengan Syariah, Bersihkan Indonesia dari Sistem dan Birokrat yang Korup!” Aksi ini dihadiri puluhan ribu massa. Aksi ini adalah bentuk kepedulian masyarakat terhadap kian merebaknya aksi-aksi korupsi yang dilakoni oleh para koruptor ulung yang menggasak uang rakyat hingga triliyunan rupiah. Semisal kasus Century Gate. Berdasarkan data yang saya dapatkan dari Indonesian Corruption Watch (ICW), Bali Corruption watch (BCW), dan FITRA. Ternyata masih ada beberapa kasus korupsi di negeri ini yang masih mandek. Diantaranya: 1. Kasus korupsi PLN di Borang dan sistem pembayaran online PLN. 2. Kosus korupsi di Komisi Pemilihan Umum dari sisi alat pemindai (scanner), informasi dan teknologi, cetak kertas suara. 3. Kasus korupsi Yayasan Bank Indonesia. 4. Kasus korupsi Pemilihan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom. 5. Kasus korupsi di perbankan, khususnya skandal Bank Century 6. Kasus korupsi di sejumlah daerah yang melibatkan pejabat daerah dan anggota DPRD. 7. Serta 200 kasus korupsi di seluruh Indonesia yang tidak jelas penangannya dari 2002-2006. Miris memang jika kita membuka mata dan jujur saat melihat fakta. Semua ini tentu terjadi bukan tanpa sebab, korupsi hanyalah merupakan akibat yang muncul karna beberapa sebab. Mari kita analisis….. Rezim yang korup ini tidak bisa lepas dari sistem yang korup, yakni Sistem Kapitalisme. Maka tak salah jika saya mengatakan bahwa KAPITALISME ini adalah LOKALISASI bagi PARA KORUPTOR. Karna memang menjadi “tempat” dan lokalisasi yang memberikan kemudahan akses dalam melakukan tindak korupsi baik oleh para penguasa, wakil rakyat, bahkan orang-orang yang menjadi rakyat itu sendiri, terutama bagi mereka, rakyat yang memiliki kekuasaan dengan uang yang berlimpah. Kasus Bank Century dan kasus-kasus korupsi lainnya yang terjadi selama ini adalah buah atau bukti dari bobroknya sistem keuangan dan perbankan kapitalis. Maka solusinya selain harus adanya rezim yang amanah, juga harus ada sistem yang baik yang berdasarkan Islam, itulah syariah Islam. Dan mesti kita fahami bahwa setiap masalah pasti ditimbulkan oleh dua hal. Pertama adalah kesalahan pada sistem. Kedua adalah kesalahan pada orang. Kesalahan pada sistem itu harus diatasi dengan menghadirkan sistem yang lebih baik. Itulah yang disebut sistem syariah Islam. Sedangkan kalau yang terjadi itu kesalahan pada rezim jadi harus menghadirkan rezim yang baik itulah khilafah. HaZna_AliFah my YM: hasnaalifah22

Susan Levy merasa bangga karena anaknya yang merupakan seorang ilmuwan Dr. Brooke Magnanti mengaku pernah menjadi pelacur baru-baru ini. Ibunya Brooke yang kini menetap di sebuah rumah sederhana dekat Syracuse, berkata pada mulanya dia terkejut ketika mendengat anak tunggalnya membuat pengakuan tersebut.

Levy, 64, mengatakan, anaknya adalah seorang penulis hebat dan gemar menulis sejak masa kanak-kanak namun merasa terperanjat ketika Dr. Brooke mengaku dia menulis mengenai pengalamannya sebagai pelacur di halaman blog pada 2003 hingga 2004 dengan menggunakan nama samaran Belle de Jour.

Beberapa waktu lalu, sebuah koran menampilkan wawancara dengan Brooke yang mengaku dia adalah penulis buku harian di internet yang menceritakan kisah mengenai dunia pelacuran. Dia kini bekerja di sebuah laboratorium di Bristol, Inggris, mengaku menjadi pelacur untuk mencari uang dalam menyiapkan tesis doktoralnya pada 2003 di London.

Kisahnya tersebut kemudian dibukukan dan laris dijual. Bahkan sebuah seri drama televisi yang diperankan oleh aktor terkenal, juga diterbitkan berdasarkan kisah buku tersebut. Levy berkata, anaknya yang mendapat pendidikan di sebuah sekolah Katolik di Florida sebelum pindah ke Inggris pernah meneleponnya pada beberapa pekan lalu menceritakan isu tersebut.

Wahai Ibu, Apakah Ini Sebuah Kebanggan atau Kehinaan?

“Saya bangga anak saya tampil di panggung kemenangan,” begitulah kiranya kata-kata yang sering diucapkan oleh seorang ibu ketika anaknya terpilih menjadi pemenang program hiburan. Masih banyak lagi reaksi spontan dan kebanggan seorang ibu bila anak-anak kesayangan mereka mendapatkan kemenangan di dunia sekular kapitalis ini.

Kebanggan Levy terhadap anak perempuannya mungkin juga sebagai reaksi apologetik untuk menutupi rasa bersalah lantaran mengabaikan tanggung jawab seorang ibu sehingga anaknya berusaha mencari uang demi tujuan yang hendak dicapai. Namun, pada saat yang sama, Levy juga mempertahankan dan ingin memberitahukan bahwa ia telah memberikan pendidikan agama terbaik kepada anaknya, yaitu dengan mengirim anaknya ke sekolah Katholik.

Inilah yang menjadi kebanggaan para ibu di Barat. Namun bagaimana dengan kita? Layakkah kebanggan bermaksiyat seperti ini menjadi inspirasi? Naudzubillahi min dzalik! Sudah tentu jawabannya: Tidak!

Hari ini kita menyaksikan, banyak para ibu, di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini pun ikut-ikutan berbangga ketika anak-anak mereka tampil di acara reality show. Ibunya mengenakan kerudung, tetapi anaknya mengumbar aurat. Alih-alih sang ibu mendidik anak-anak mereka agar taat kepada Allah Swt, malah mereka ikut serta mendukung anaknya meraih ‘prestasi’ yang pada kenyataanya bermaksiyat.

Islam telah mengajarkan kepada kita, sebesar apa pun keinginan yang ingin dicapai, tetap saja selamanya tidak boleh menghalalkan segara cara. Apapun tujuan yang diraih di dalam kehidupan kita sehari-hari wajiblah bagi kita untuk mengikuti cara-cara dan acuan yang dilandasi syariat dan tidak boleh bertolak belakang dengan syariat tersebut. Seandainya saja kita bertentangan dengan syariat, di dunia mungkin selamat, tetapi bagaimana ketika berhadapan dengan Allah Hari Pembalasan di Akhirat kelak?

Tidak salah untuk berbangga, tetapi bagi seorang Muslim ada tempatnya. Menelusuri teladan para sahabiyyah di sepanjang sejarah kebangkitan Islam, begitu banyak kisah mereka yang patut menjadi contoh kebanggan kita sebagai generasi umat yang terbaik ini. Diantaranya, Kabsyah bin Rafi’ yang kehilangan dua orang anak kesayangannay Amru bin Muadz dan Sa’ad bin Muadz yang gugur syahid dalam mempertahankan Deen Allah. Bagaimana pendidikan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya sehingga mampu berkorban demi Kalimah Allah yang teguh. Begitu juga kebanggaan seorang ibu di dalam islam telah terekam dengan tinta emas sebagai sebuah sejarah teladan yang gemilang.

Begitu juga, sayidatina Asma’ binti Abu Bakar yang senantiasa merangsang anaknya Abdullah bin Zubair agar tidak menjadi seorang pengecut dan terus berjuang hingga ke ujung nyawa sekalipun. Ibu yang bertaqwa akan mendidik anak-anaknya dengan penuh ketaqwaan sehingga anak-anak mereka bercita-cita menjadi syuhada’. Ini bukan saja menjadi kebanggan bagi sang ibu, tetapi juga kebanggan bagi seluruh kaum Muslim dari satu generasi ke generasi yang lainnya.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (TQS. Al-Anfal [8]: 28)

Hari ini, kaum Muslim merindukan para ibu seperti layaknya para sahabiyyah yang senantiasa mendidik anak-anaknya agar menaati Islam. Namun, kini kaum Muslim termasuk kaum ibu dan anak-anaknya berada dalam sebuah ancaman. Kapitalisme tengah mencengkram kaum Muslim, termasuk kepada kaum ibu dari kaum Muslim. Padahal Kapitalisme telah nyata kerusakkannya. Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan. Buang jauh kapitalisme ke tempat sampah, dan kita hanya berpegang teguh kepada Islam saja. Dengan demikian akan terlahir kembali sosok-sosok ibu seperti di zaman para sahabiyyah. Dari sinilah akan terlahir generasi baru, generasi yang berjuang dan berkorban demi Islam. Insya Allah. [nisa/m/myk/syabab.com]

Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan (ithmi’nân/ thuma’nînah) bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai dengan aturan Allah Swt., Zat Yang mencurahkan cinta dan kasih-sayang kepada manusia.

Hampir setiap Mukmin mempunyai harapan yang sama tentang keluarganya, yaitu ingin bahagia; sakînah mawaddah warahmah. Namun, sebagian orang menganggap bahwa menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng adalah hal yang tidak gampang. Fakta-fakta buruk kehidupan rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani kehidupan rumahtangga. Bahkan, tidak jarang, sebagian orang menjadi enggan menikah atau menunda-nunda pernikahannya.

Menikahlah, Karena Itu Ibadah

Sesungguhnya menikah itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, hanya memerlukan perhitungan cermat dan persiapan matang saja, agar tidak menimbulkan penyesalan. Sebagai risalah yang syâmil (menyeluruh) dan kâmil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim. Tujuannya adalah agar pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suami-istri. Dengan itu akan terwujud keluarga yang bahagia dan langgeng. Hal ini bisa diraih jika pernikahan itu dibangun atas dasar pemahaman Islam yang benar.

Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunnah Rasullullah saw., melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan. Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti pula mempertautkan hubungan dua keluarga. Dengan begitu, jaringan persaudaraan dan kekerabatan pun semakin luas. Ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Pada skala yang lebih luas, pernikahan islami yang sukses tentu akan menjadi pilar penopang dan pengokoh perjuangan dakwah Islam, sekaligus tempat bersemainya kader-kader perjuangan dakwah masa depan.

Inilah tujuan pernikahan yang seharusnya menjadi pijakan setiap Muslim saat akan menikah. Karena itu, siapa pun yang akan menikah hendaknya betul-betul mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk meraih tujuan pernikahan seperti yang telah digariskan Islam. Setidaknya, setiap Muslim, laki-laki dan perempuan, harus memahami konsep-konsep pernikahan islami seperti: aturan Islam tentang posisi dan peran suami dan istri dalam keluarga, hak dan kewajiban suami-istri, serta kewajiban orangtua dan hak-hak anak; hukum seputar kehamilan, nasab, penyusuan, pengasuhan anak, serta pendidikan anak dalam Islam; ketentuan Islam tentang peran Muslimah sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga, juga perannya sebagai bagian dari umat Islam secara keseluruhan, serta bagaimana jika kewajiban-kewajiban itu berbenturan pada saat yang sama; hukum seputar nafkah, waris, talak (cerai), rujuk, gugat cerai, hubungan dengan orangtua dan mertua, dan sebagainya. Semua itu membutuhkan penguasaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh oleh pasangan yang akan menikah. Artinya, menikah itu harus didasarkan pada ilmu.

Jadilah Sahabat yang Menyenangkan

Pernikahan pada dasarnya merupakan akad antara laki-laki dan perempuan untuk membangun rumahtangga sebagai suami-istri sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sesungguhnya kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah kehidupan persahabatan. Suami adalah sahabat karib bagi istrinya, begitu pula sebaliknya.

Keduanya benar-benar seperti dua sahabat karib yang siap berbagi suka dan duka bersama dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka demi meraih tujuan yang diridhai Allah Swt. Istri bukanlah sekadar patner kerja bagi suami, apalagi bawahan atau pegawai yang bekerja pada suami. Istri adalah sahabat, belahan jiwa, dan tempat curahan hati suaminya.

Islam telah menjadikan istri sebagai tempat yang penuh ketenteraman bagi suaminya. Allah Swt. berfirman:
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (TQS. ar-Rum [30]: 21).

Maka dari itu, sudah selayaknya suami akan merasa tenteram dan damai jika ada di sisi istrinya, demikian pula sebaliknya. Suami akan selalu cenderung dan ingin berdekatan dengan istrinya. Di sisi istrinya, suami akan selalu mendapat semangat baru untuk terus menapaki jalan dakwah, demikian pula sebaliknya. Keduanya akan saling tertarik dan cenderung kepada pasangannya, bukan saling menjauh. Keduanya akan saling menasihati, bukan mencela; saling menguatkan, bukan melemahkan; saling membantu, bukan bersaing.

Keduanya pun selalu siap berproses bersama meningkatkan kualitas ketakwaannya demi meraih kemulian di sisi-Nya. Mereka berdua berharap, Allah Swt. berkenan mengumpulkan keduanya di surga kelak. Ini berarti, tabiat asli kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah ithmi’nân/tuma’ninah (ketenangan dan ketentraman). Walhasil, kehidupan pernikahan yang ideal adalah terjalinnya kehidupan persahabatan antara suami dan istri yang mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi keduanya.

Untuk menjamin teraihnya ketengan dan ketenteraman tersebut, Islam telah menetapkan serangkaian aturan tentang hak dan kewajiban suami-istri. Jika seluruh hak dan kewajiban itu dijalankan secara benar, terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah adalah suatu keniscayaan.

Bersabar atas Kekurangan Pasangan

Kerap terjadi, kenyataan hidup tidak seindah harapan. Begitu pula dengan kehidupan rumahtangga, tidak selamanya berlangsung tenang. Adakalanya kehidupan suami-istri itu dihadapkan pada berbagai problem baik kecil ataupun besar, yang bisa mengusik ketenangan keluarga. Penyebabnya sangat beragam; bisa karena kurangnya komunikasi antara suami-istri, suami kurang makruf terhadap istri, atau suami kurang perhatian kepada istri dan anak-anak; istri yang kurang pandai dan kurang kreatif menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga; karena adanya kesalahpahaman dengan mertua; atau suami yang ‘kurang serius’ atau ‘kurang ulet’ mencari nafkah. Penyebab lainnya adalah karena tingkat pemahaman agama yang tidak seimbang antara suami-istri; tidak jarang pula karena dipicu oleh suami atau istri yang selingkuh, dan lain-lain.

Sesungguhnya Islam tidak menafikan adanya kemungkinan terusiknya ketenteraman dalam kehidupan rumahtangga. Sebab, secara alami, setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti dihadapkan pada berbagai persoalan. Hanya saja, seorang Muslim yang kokoh imannya akan senantiasa yakin bahwa Islam pasti mampu memecahkan semua problem kehidupannya. Oleh karena itu, dia akan senantiasa siap menghadapi problem tersebut, dengan menyempurnakan ikhtiar untuk mencari solusinya dari Islam, seiring dengan doa-doanya kepada Allah Swt. Sembari berharap, Allah memudahkan penyelesaian segala urusannya.

Keluarga yang sakinah mawaddah warahmah bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah. Yang dimaksud adalah keluarga yang dibangun atas landasan Islam, dengan suami-istri sama-sama menyadari bahwa mereka menikah adalah untuk ibadah dan untuk menjadi pilar yang mengokohkan perjuangan Islam. Mereka siap menghadapi masalah apapun yang menimpa rumahtangga mereka. Sebab, mereka tahu jalan keluar apa yang harus ditempuh dengan bimbingan Islam.

Islam telah mengajarkan bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu taat kepada Allah, tidak pula ma‘shûm (terpelihara dari berbuat maksiat) seperti halnya para nabi dan para rasul. Manusia adalah hamba Allah yang memiliki peluang untuk melakukan kesalahan dan menjadi tempat berkumpulnya banyak kekurangan. Pasangan kita (suami atau istri) pun demikian, memiliki banyak kekurangan. Karena itu, kadangkala apa yang dilakukan dan ditampakkan oleh pasangan kita tidak seperti gambaran ideal yang kita harapkan. Dalam kondisi demikian, maka sikap yang harus diambil adalah bersabar!

Sabar adalah salah satu penampakan akhlak yang mulia, yaitu wujud ketaatan hamba terhadap perintah dan larangan Allah Swt. Sabar adalah bagian hukum syariat yang diperintahkan oleh Islam. (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 153; QS az-Zumar [39]: 10).

Makna kesabaran yang dimaksudkan adalah kesabaran seorang Mukmin dalam rangka ketaatan kepada Allah; dalam menjalankan seluruh perintah-Nya; dalam upaya menjauhi seluruh larangan-Nya; serta dalam menghadapi ujian dan cobaan, termasuk pula saat kita dihadapkan pada ‘kekurangan’ pasangan (suami atau istri) kita.

Namun demikian, kesabaran dalam menghadapi ‘kekurangan’ pasangan kita harus dicermati dulu faktanya. Pertama: Jika kekurangan itu berkaitan dengan kemaksiatan yang mengindikasikan adanya pelalaian terhadap kewajiban atau justru melanggar larangan Allah Swt. Dalam hal ini, wujud kesabaran kita adalah dengan menasihatinya secara makruf serta mengingatkannya untuk tidak melalaikan kewajibannya dan agar segera meninggalkan larangan-Nya. Contoh pada suami: suami tidak berlaku makruf kepada istrinya, tidak menghargai istrinya, bukannya memuji tetapi justru suka mencela, tidak menafkahi istri dan anak-anaknya, enggan melaksanakan shalat fardhu, enggan menuntut ilmu, atau malas-malasan dalam berdakwah. Contoh pada istri: istri tidak taat pada suami, melalaikan pengasuhan anaknya, melalaikan tugasnya sebagai manajer rumahtangga (rabb al-bayt), sibuk berkarier, atau mengabaikan upaya menuntut ilmu dan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Sabar dalam hal ini tidak cukup dengan berdiam diri saja atau nrimo dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita, tetapi harus ada upaya maksimal menasihatinya dan mendakwahinya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, kita senantiasa mendoakan pasangan kita kepada Allah Swt.

Kedua: Jika kekurangan itu berkaitan dengan hal-hal yang mubah maka hendaknya dikomunikasikan secara makruf di antara suami-istri. Contoh: suami tidak terlalu romantis bahkan cenderung cuwek; miskin akan pujian terhadap istri, padahal sang istri mengharapkan itu; istri kurang pandai menata rumah, walaupun sudah berusaha maksimal tetapi tetap saja kurang estetikanya, sementara sang suami adalah orang yang apik dan rapi; istri kurang bisa memasak walaupun dia sudah berupaya maksimal menghasilkan yang terbaik; suami “cara bicaranya” kurang lembut dan cenderung bernada instruksi sehingga kerap menyinggung perasaan istri; istri tidak bisa berdandan untuk suami, model rambutnya kurang bagus, hasil cucian dan setrikaannya kurang rapi; dan sebagainya. Dalam hal ini kita dituntut bersabar untuk mengkomunikasikannya, memberikan masukan, serta mencari jalan keluar bersama pasangan kita. Jika upaya sudah maksimal tetapi belum juga ada perubahan, maka terimalah itu dengan lapang dada seraya terus mendoakannya kepada Allah Swt. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 19). Rasulullah saw. bersabda:

Janganlah seorang suami membenci istrinya. Jika dia tidak menyukai satu perangainya maka dia akan menyenangi perangainya yang lain. (HR Muslim).

Inilah tuntunan Islam yang harus dipahami oleh setiap Mukmin yang ingin rumahtangganya diliputi dengan kebahagiaan, cinta kasih, ketenteraman, dan langgeng. Wallâhu a‘lam bi ash-shawab. [keluarga/syabab.com]

Hadir sekitar 200 orang remaja muslimah Se-Kota dan Se-Kabupaten Sukabumi dalam Aksi Simpatik yang dipelopori oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Sukabumi. Ahad (29/11).
Masa berkumpul di alun-alun Kota Sukabumi sejak pukul 9.00 WIB. Terik panas mentari di pagi hari tidak menyurutkan sedikitpun semangat dari para peserta Aksi Simpatik yang memekikan takbir yang dipandu oleh MC.
Acara semakin semarak ketika MC memandu para peserta Aksi untuk meneriakkan yel-yel yang berbunyi:
Prostitusi…. 3x, Biang Keladi….
Aborsi…. 2x, Mesti Diamputasi
Syariah Islam….2x, Itu adalah Solusi
Khilafah…. 2x, Pasti Tegak Kembali
Aksi ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian MHTI terhadap peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia. Data dari Depkes RI, hingga akhir bulan Juni 2009 tercatat 17.699 kasus AIDS, angka ini delapan kali lipat lebih besar dari tahun 2007 yaitu 2.947 kasus. Data ini membuat kita khawatir akan masa depan Indonesia karena 79,6% dari 298.000 penderita HIV/AIDS berusia 20-39 tahun sehingga bahaya lost generation menghadang masa depan Indonesia. dan yang sangat disesalkan adalah program penanggulangan HIV/AIDS yang dilaksanakan pemerintah tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya, malah menambah permasalahan yang ada. Melalui aksi ini, MHTI menawarkan solusi fundamentalis untuk kasus HIV/AIDS yaitu dengan penerapan syariah dan khilafah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai uswah bagi kita.

 

Aksi simpatik ini dimulai dengan pembacaan puisi yang menggugah oleh Ukhti Sari Muhartini, kemudian orasi pertama disampaikan oleh keynote speaker yaitu Ibu dr. Hj. Rita Fitrianingsih, M.Kes selaku Sekretaris Penanggulangan HIV/AIDS Kota Sukabumi. Dalam kesempatan ini, beliau memaparkan fakta-fakta mengenai jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Sukabumi yang sudah menduduki peringkat ke-3 di Jawa Barat. Beliau pun memaparkan, bahwa dari 325 jumlah penderita, hanya tinggal tersisa 121 penderita yang masih bertahan hidup, sisanya meninggal dunia. Beliau pun menyampaikan dukungan atas Aksi Simpatik yang dilakukan oleh MHTI. Orasi beliau sekaligus membuka acara Aksi Simpatik.

Orasi yang kedua disampaikan oleh Ibu Endang Triastuti M.P. (Ketua Lijan DPD II MHTI Sukabumi) Kemudian, orasi ketiga disampaikan oleh Ibu Ir. Ummu Rahma (Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia). Selanjutnya, massa bergerak melakukan longmarch ke jalan-jalan utama Kota Sukabumi yaitu dimulai dari alun-alun Kota Sukabumi ke Jalan A. Yani, Jalan Gudang, kemudian ke Jalan R.E Martadinata dan kembali di alun-alun Kota Sukabumi, tepatnya di depan rumah dinas Kabupaten Sukabumi. Orasi selanjutnya dari Perwakilan remaja, Khoerunnisa (siswi SMAN 1 Cibadak) dan Dewi Wiraswasti (mahasiswa D3 Kebidanan STIKES Kota Sukabumi) yang menyampaikan seruan remaja kepada penguasa.
Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan Aksi Teatrikal oleh panitia yang menggambarkan praktek penyebab penularan virus HIV/ AIDS hingga penyakit ini menular. Dalam Aksi Teatrikal ini digambarkan, bahwa hanya Syariah dan Khilafah-lah sebagai solusi komprehensif dan mendasar untuk menyelesaikan persolan ini.
Acara ini ditutup dengan pembacaan Pernyataan Juru Bicara MHTI oleh Ketua DPD II MHTI Sukabumi, Ibu Sinta Rosa Kamila, S.P, M.Pd. dan do’a yang dibacakan oleh Ukhty Yayu (siswi SMAN 4 Kota Sukabumi).
.
Demikianlah acara ini kami persembahkan untuk kemuliaan islam, kaum perempuan, dan seluruh kaum muslimin.
Allahu Akbar!
Sukabumi, 29 November 2009
MHTI Kota Sukabumi

Telah bercerita kepada kami Abu Khaitsamah, ia berkata: Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yazid bin Hunais, ia berkata: Aku mendengar Wahib bin al-Ward bin Abu al-Ward, mantan budak (maula) Bani Makhzum berkata:

“Seorang ulama bertemu dengan seorang ulama yang lebih tinggi ilmunya. Lalu, ia berkata: ‘Yarhamukallah, semoga Allah merahmatimu. Mana di antara amalku yang perlu aku sembunyikan?’ Ulama—yang lebih tinggi ilmunya—itu menjawab: ‘Amal sehingga orang mengira kamu bahwa kamu tidak melakukan kebaikan apapun selain melaksanakan perkara-perkara wajib.’ Ia berkata lagi: ‘Yarhamukallah, semoga Allah merahmatimu. Mana di antara amalku yang perlu aku tampakkan?’ Ulama—yang lebih tinggi ilmunya—itu menjawab: ‘Aktivitas amar makruf nahyi munkar, mengajak orang berbuat baik dan mencegah orang berbuat munkar. Sebab, itu—merupakan tujuan—agama Allah, yang karenanya Allah mengutus para Nabi untuk menyampaikan hal itu kepada para hamba-Nya. Sungguh para fuqaha (para ahli fiqih) telah bersepakat atas sabda Rasulullah SAW: ‘Jadikan aku sebagai pembawa berkah dimanapun aku berada.’ Ia berkata: ‘Apa berkah yang dimaksudkannya itu?’ Ulama—yang lebih tinggi ilmunya—itu menjawab: ‘Aktivitas amar makruf nahyi munkar, mengajak orang berbuat baik dan mencegah orang berbuat munkar, dimanapun berada’.”

نفائس الثمرات- وجعلني مباركا أين ما كنت

حدثنا أبو خيثمة ، قال : حدثنا محمد بن يزيد بن خنيس ، قال : سمعت وهيب بن الورد بن أبي الورد ، مولى بني مخزوم قال : « لقي عالم عالما هو فوقه في العلم ، فقال : يرحمك الله ، ما الذي أخفي من عملي ؟ قال : ما يظن بك أنك لم تعمل حسنة قط إلا أداء الفرائض ، قال : يرحمك الله ، فما الذي أعلن من عملي ؟ ، قال : الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ؛ فإنه دين الله الذي بعث الله به أنبياءه إلى عباده ، وقد اجتمع الفقهاء على قول نبي الله صلى الله عليه وسلم : » ( وجعلني مباركا أين ما كنت ) « قال : ما بركته تلك ؟ قال : الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر أينما كان »

الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لابن أبي الدنيا

Dipetik dari kitab al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ’anil Munkar, karya Ibnu Abid Dunya.

Sumber: hizb-ut-tahrir.info
Tanggal: 19 Dzul Qa’dah 1430 H./7 Nopember 2009 M.
Add This!

Salah satu karakteristik takwa adalah sifat pemaaf, yaitu memaafkan orang lain, bukan meminta maaf. Firman-Nya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran/3: 133-134).

Jika dibandingkan antara memaafkan dengan meminta maaf, tentu jauh lebih sulit memaafkan. Namun, tidak sedikit di antara kita yang lebih menuntut orang lain meminta maaf, bahkan jika perlu minta maaf secara terbuka kepada publik. Padahal meminta maaf merupakan sikap yang sangat wajar dilakukan oleh orang yang telah melakukan kesalahan. Sementara memaafkan merupakan sikap yang amat sulit dilakukan, terlebih kepada orang yang jelas melakukan penganiayaan dan ada kesempatan untuk membalasnya melalui hukum atau cara lainnya.

Dalam hukum Islam, dikenal istilah qishas, artinya mengambil pembalasan yang sama. Namun al-Qur’an tetap menuntun kita untuk memaafkan sehingga ampunan dan rahmat Allah senantiasa dilimpahkan (Qs. Al-Baqarah/2 : 178 dan Al-Ma’idah/5: 45). Dalam Q.S. Asy-Syura: 40 Allah juga berfirman: “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”

Selain adanya peluang untuk membalas orang yang telah melakukan kezhaliman, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis juga menjelaskan bahwa salah satu di antara doa yang mudah dikabulkan oleh Allah adalah doa orang yang dizalimi. Akan tetapi di hadis yang lain, Nabi malah menegaskan bahwa salah satu akhlak yang paling terpuji adalah memaafkan orang yang telah menzhalimi (wa ta’fu ‘ amman zhalamaka). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Dengan demikian, sikap memaafkan akan terasa sulit mengingat adanya peluang diberikan dalam Islam untuk “membalas” perbuatan orang yang bersalah. Akan tetapi, dengan kesulitan ini, balasan yang diberikan Allah kepada orang yang mampu melakukannya tentu jauh lebih mulia dan berharga, salah satu di antaranya adalah mengantarkan seseorang kepada derajat taqwa sebagaimana yang telah disinggung di atas.
Meskipun sikap memaafkan terasa sulit, tetapi tidak pula mustahil dilakukan. Memaafkan sesama manusia justru akan terasa mudah dilakukan dengan kesadaran iman dan memahami hakikat manusia yang sesungguhnya.

Dengan iman yang benar, seseorang akan mengenal Allah dengan sifat dan nama-nama-Nya yang indah lagi mulia. Salah satu di antara nama-Nya dalam asma’ul husna adalah “al-‘Afuwwu”, artinya Maha Pemaaf. Sementara Nabi menuntun kita untuk meneladani nama-nama Allah tersebut sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Jika Allah memaafkan para hamba-Nya yang kerap melakukan kesalahan, maka manusia pun seyogyanya ikhlas memaafkan sesamanya, meskipun ia tidak pernah menyatakan permintaan maaf.

Kemudian, sifat pemaaf juga akan terasa mudah dilakukan dengan memahami hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Oleh karenanya manusia acap kali melakukan kesalahan. Mengenai hal ini, Rasul menegaskan bahwa “Setiap manusia itu pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” Jadi manusia yang baik bukanlah tidak pernah melakukan kesalahan, akan tetapi mereka yang bersalah dan bersegera bertaubat atas kesalahan yang dilakukan.

Karena setiap manusia bersalah, maka orang yang merasa teraniaya pun sebenarnya pernah melakukan kesalahan. Dengan demikian, jika orang lain melakukan kesalahan kepada kita maka hendaklah kita mengingat kembali kesalahan yang pernah kita lakukan kepada orang lain. Lalu coba rasakan bagaimana seandainya kesalahan kita tersebut tidak dimaafkan oleh orang lain?

Jika direnungkan, dalam kehidupan ini banyak hal yang menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat (causality), termasuk dalam interaksi sosial, seperti: orang yang baik akan mendapat pujian; orang yang berbuat jahat akan dibenci orang; orang yang mudah menghormati akan mudah pula dihormati orang lain. Hanya saja, sebab-akibat tersebut tidak harus bersifat kontan (cash), tetapi bisa berganti dengan yang lain. Dalam hal menolong, misalnya, Nabi SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong orang lain”. Hadis ini menunjukkan bahwa jika kita menolong orang, Allah akan membalas dengan pertolongan Allah. Pertolongan Allah itu bisa melalui berbagai hal, bisa jadi langsung dari orang yang pernah kita tolong, tetapi bisa pula dari orang lain yang malah tidak kita kenal.

Demikian pula dalam hal memaafkan. Ketika kita sanggup memaafkan orang lain dengan hati tulus, maka insya’ Allah kita akan memperoleh maaf dari orang lain pula atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Agaknya perlu kita merenungkan pernyataan ahli hikmah: “Ingatlah dua hal dan lupakan pula dua hal. Pertama, ingatlah kebaikan orang lain kepadamu dan lupakanlah kebaikanmu pada orang lain; kedua, ingatlah kesalahanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu.”

Jika saja kita memaafkan sesama manusia, maka ketenangan batin niscaya akan diperoleh. Sebab secara psikologis, orang yang tidak bisa memaafkan akan mengidap penyakit benci bahkan dendam. Sementara rasa benci dan dendam akan mengganggu kesehatan mental seseorang sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit kejiwaan bahkan bisa berpengaruh pula terhadap kesehatan fisik. Secara sosial, orang yang sulit memaafkan akan memperhambat terjalinnya persaudaraan yang erat menuju persatuan dan kesatuan masyarakat yang kuat.

Dengan demikian, sifat memaafkan juga bisa mempererat persaudaraan sehingga terwujud persatuan dan kekuatan umat. Hal ini pula yang pernah dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW dalam penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah). Di saat Nabi bersama para sahabat berbondong-bondong memasuki kota Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala, orang-orang kafir Quraisy malah ketakutan karena menganggap Nabi datang membalas dendam. Namun, apa yang dilakukan oleh Nabi jauh dari dugaan mereka. Nabi malah memaafkan mereka sehingga mengetuk hati sebagian di antara mereka untuk memeluk ajaran Islam. Sejak peristiwa itu pula, Mekah dikuasai oleh umat Islam sehingga terpeliharalah Ka’bah dari pemberhalaan kaum Jahiliyah hingga saat ini.

Begitu besarnya manfaat sifat pemaaf, maka setiap muslim yang menginginkan kemuliaan dengan derajat taqwa mesti membiasakan diri untuk mudah memaafkan sesamanya. Baginya tidak ada kata “tiada maaf bagimu”. Ingatlah, orang yang sulit memaafkan tidak akan memperoleh kemuliaan justru malah ketidaktenangan karena diliputi rasa kebencian. Sebaliknya, orang yang tulus memaafkan akan memperoleh kemuliaan, terhindar dari rasa kesal dan sesal, dan yang terpenting menjadi aset untuk meraih kedudukan taqwa.

Hadir 150 mahasiswa baru AMIK BSI Sukabumi dalam acara Kajian Islam Ramadhan 1430 H yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa AMIK BSI Sukabumi. bertempat di Aula Toserba Selamat Kota Sukabumi (16/9).
“Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan kami kepada kondisi mahasiswa masa kini yang mulai tidak peduli akan kondisi di sekitar mereka. kondisi yang sudah jauh dari ideal ini ditandai dengan maraknya tindak kriminalitas, kenakalan remaja, seks bebas, aborsi, pengesahan beragam undang-undang yang sama sekali tidak memihak kepada rakyat, sudah menjadi bukti konkrit carut marutnya kondisi negeri kita ini.” Ujar Rifan Andrian, Ketua Senat Mahasiswa AMIK BSI Sukabumi ketika menyampaikan sambutannya.
Beliau juga menyampaikan sekaligus mengajak kepada seluruh mahasiswa baru untuk turut serta melakukan perubahan dari kondisi yang tidak ideal ini menuju kondisi yang ideal. Mahasiswa sebagai elemen dari kaum intelektual sudah selayaknya memiliki andil yang cukup besar dalam proses perubahan ini. Perubahan menuju arah yang lebih baik, yakni perubahan ke arah penerapan Syariat Islam secara kaffah (menyeluruh).
Hadir sebagai keynote speaker, Bapak Sriyadi, S.Kom. beliau adalah Koordinator Kampus BSI Sukabumi yang mewakili Bapak H. Syamsul Bahri, S.Kom, MM. PUDIR III BSI yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa sudah selayaknya mahasiswa hadir sebagai insan pemimpin perubahan, generasi penerus pemuda terdahulu seperti Ali bin Abi Thalib, generasi perubah dan generasi pengganti
Dan hadir sebagai pembicara Ustd M. Iwan Januar, S.Ikom, beliau adalah penulis buku-buku Remaja Islam. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa Mahasiswa sudah selayaknya menjadi seorang Agent of Change. Dengan senantiasa mencari ilmu guna membentuk pola fikir yang Islami sehingga memunculkan pola sikap yang Islami pula maka otomatis akan terbentuk kepribadian yang Islami yang merupakan modal utama menjadi seorang Agent of Change. Pemaparan beliau yang amat interaktif dibarengi dengan contoh-contoh fakta yang mudah dicerna oleh para mahasiswa seolah telah menyihir mereka untuk menyimak dengan seksama.
Acara ini juga dimeriahkan oleh kehadiran Sabda Band sebagai Guest Star. dengan menampilkan 4 lagu religi. kemudian ditutup dengan pembacaan do’a oleh panitia.
Pada akhir acara, dilaksanakan launching Komunitas Mahasiswa Rindu Syariah yang dipelopori oleh Dept. Agama Senat Mahasiswa AMIK BSI Sukabumi.

Halaman Berikutnya »